Loving Rusdi

Dalam film “Loving Pablo”, —film tentang Pablo Escobar, gembong narkoba paling dahsyat dan brutal itu— yang saya tonton beberapa waktu yang lewat, ada satu scene yang bagi saya punya arti begitu dalam dan sentimentil. Adegan saat si Pablo Escobar menangis karena tak bisa mengantar putri kesayangannya, Manuela, pergi ke alun-alun membeli es krim karena ia harus mendekam di penjara.

Don Pablo, begitu julukannya, lelaki yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di negaranya, lelaki yang pernah memasok 80 persen kebutuhan kokain amerika serikat, lelaki yang punya banyak pasukan dan sicario (pembunuh bayaran) yang siap mati untuknya, lelaki yang memimpin salah satu kartel narkoba terbesar di dunia, ternyata menangis karena tak bisa mengantar putri kesayangannya membeli es krim.

Bagi Pablo, mengantarkan putrinya membeli es krim adalah soal harga diri sebagai seorang ayah. Dan ketika hal itu tak sanggup ia jalani, rubuh harga diri itu.

Dan kita semua tahu, ketika harga diri rubuh, tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menangis.

Di belahan bumi yang lain, saya pernah melihat adegan yang tak kalah sentimentil tentang urusan harga diri.

Lelaki itu bernama Rusdi Mathari. Ia tentu saja bukan kartel narkoba seperti Pablo Escobar, potongannya sangat tidak meyakinkan untuk ukuran seorang kartel. Ia adalah penulis dan wartawan. Salah satu yang terbaik yang pernah dimiliki negeri ini.

Baginya, menulis tentu saja adalah perkara harga diri. Menulis adalah pekerjaannya. Dari menulis itu, ia bisa memberikan apa saja untuk anak dan istrinya.

Bahkan dalam kondisi yang sakit, ia tetap ingin bisa menulis.

“Saya harus mengetik, harus bertahan dan hidup, menulis adalah pekerjaan saya. Karena Itu saya mencoba menulis menggunakan gajet, meskipun hanya dengan satu jari. Tangan kiri memegang gajet, jempol tangan kanan mengetik.”

Dan, pada suatu ketika, pemandangan itu saya lihat saat saya dan Puthut EA menjenguk dirinya di rumahnya. Di ranjangnya, ia hanya berbaring lemah. Tangannya susah digerakkan. Dalam kondisi tersebut, air matanya mengalir. Ya, ia menangis. Rusdi Mathari menangis.

“Aku wis gak iso nulis, Thut, Gus…” ujarnya lirih. “Tanganku iki wis gak iso gerak.”

Saya ikut menangis. Saya melihat bagaimana harga diri itu tumbang disertai dengan air mata.

Kelak, sosok yang menangis karena tak bisa menulis itu akhirnya berpulang. Namun begitu, tentu saja tulisannya akan terus abadi. Sebab ada banyak kawan baik yang terus menjaga, menerbitkan, menyebarkan, dan merayakan tulisan-tulisannya.

Find Our Love Again: 30 Tahun Rekam Jejak Powerslaves

Kalau ditanya apa band dalam negeri favorit saya, maka saya tak ragu menyebut dua band ini: Dewa19 dan Powerslaves. Kalau salah satu dari dua band ini konser di Jogja, Magelang, atau kota-kota-kota lain yang relatif mudah untuk saya jangkau, maka sebisa mungkin saya akan menyempatkan diri untuk menontonnya. Saya menyukai Dewa19 sejak SD, sedangkan Powerslaves sejak SMP.

Ada beberapa persamaan unik yang kebetulan ada dalam dua band ini.

Pertama, baik Dewa19 maupun Powerslaves digawangi oleh drummer yang sama: Agung Yudha alias Agung Gimbal.

Tak banyak yang tahu bahwa Agung Yudha, selain menjadi drummer Dewa 19 (dan juga Ari Lasso Band), juga masih berstatus sebagai drummer Powerslaves. Walau dirinya sudah sangat jarang manggung bersama Powerslaves dan nyaris selalu digantikan oleh additional player, namun ia tetaplah drummer utama Powerslaves.

Yang kedua, Dewa19 maupun Powerslaves sama-sama punya perjalanan karier yang kelak membuat mereka punya dua vokalis yang legendaris dengan masing-masing karakter suara yang khas.

Dewa punya Ari Lasso dan Once, sedangkan Powerslaves punya Njet dan Heydi Ibrahim.

Ketiga, dua band ini sama-sama punya satu sosok yang membantu mereka untuk mengorbit di Jakarta. Dewa19 dibantu oleh Harun, teman sekolah Wawan yang memberikan modal sebesar 10 juta rupiah untuk membantu Dewa19 rekaman di Jakarta. Sementara Powerslaves banyak dibantu oleh Gilang Ramadhan, sosok yang sangat berjasa bagi Powerslaves dalam merintis karier di Jakarta, ia bahkan merelakan rumahnya sebagai tempat tinggal personel Powerslaves selama di Jakarta.

Kisah tentang Dewa19 tentu sudah banyak diketahui. Biografinya pun ada, dari yang versi buku “Manunggaling Dewa Ahmad Dhani” sampai yang versi nylempit di buku “Indonesian Song Book I”. Bahkan kalau mau yang lebih dramatik, ada versi sinetronnya yang dulu tayang sekitar tahun 2004 di Trans TV dan sempat ramai karena digugat oleh Erwin Prasetya itu.

Nah, kalau untuk Powerslaves, saya nyaris tak pernah mengetahui dengan lengkap. Selain dari postingan-postingan grup Facebook dan website Kereta Rock n Roll (Manajemen Powerslaves), informasi lain yang bisa saya jadikan sebagai sumber informasi untuk mengulik band kesayangan ini nyaris hanya dari video-video vlog yang dibikin oleh personel Powerslaves di kanal Youtube dan media sosial mereka masing-masing.

Maka, ketika Powerslaves akhirnya merilis buku catatan perjalanan mereka untuk menandai 30 tahun mereka berkarya, saya girang setengah mampus dan tak butuh waktu lama untuk langsung ikut PO.

Apalagi, dari berbagai siaran langsung Instagram untuk menyambut peluncuran buku ini, para personel mengatakan bersedia buka-bukaan tentang perjalanan band yang menjadi sangat besar karena lagu “Find Our Love Again” ini.

Beberapa hari yang lalu, buku ini akhirnya tiba. Tepat ketika saya membuka paket tersebut, saya membatin pelan, “Ini dia, buku yang sudah saya tunggu belasan tahun lamanya.”

buku find our love again

Buku berkelir hitam itu langsung saya hirup. Aroma kertasnya amat menyenangkan. Saya membawanya berlari dengan girang menuju ruang tengah untuk segera saya baca.

Sambil membuka preview halaman per halaman, saya tak bisa menahan mulut saya untuk berteriak, “Lima tahun yang lalu, kumainkan musikku, dalam kamar tidur milikku, oh yeaaaaah... Led Zeppelin idolaku, bikin marah papaku…”

Kritik, Fakta, Fiksi: Buku “Mahal” Bre Redana

Rabu kemarin, saya mendapatkan kehormatan karena menjadi pembedah buku barunya Pak Bre Redana “Kritik, Fakta, Fiksi”. Tentu saja saya gentar ketika mula-mula pihak penerbit meminta saya untuk menjadi pembedah buku tersebut.

Alasan pertama sudah pasti adalah faktor Pak Bre Redana sendiri. Ia penulis yang saya yakin semua orang tak akan berani meragukan kualitas tulisannya. Ia legendanya legenda. Core of the core. Kalau merunut pada ucapan Jacob Oetama yang berkali-kali mengatakan bahwa roh koran adalah kebudayaan, maka tak berlebihan bila Bre Redana, yang mengurus kolom budaya di Kompas bertahun-tahun lamanya itu adalah sebagian dari roh Kompas.

Alasan kedua karena ini adalah acara mahal. Buku Pak Bre dibikin dalam dua versi: versi reguler dan versi premium. Nah, versi premium ini dikemas secara kolaboratif dengan artwork karya perupa Ronald Apriyan dan dicetak hanya 100 copy dan dijual masing-masing 3 juta rupiah, dan semuanya sold out. Sementara artwork aslinya dilelang dan laku 300 juta. Maka, menjadi pembedah di acara “600 juta” tentu adalah beban besar.

Alasan ketiga tentu saja karena tamu undangan yang hadir. Musabab ini acara terbatas, maka jumlah pesertanya tak lebih dari 30, dan sialnya, 30 orang ini adalah mereka kalangan penulis, seniman, kolektor, sampai budayawan. Nyaris kesohor semua. Beberapa nama yang saya tahu misalnya ada Gus Muh, Mahfud Ikhwan, Agus Noor, Delia Murwihartini, Putu Sutawijaya, sampai presiden lima gunung Tanto Mendut.

Tiga alasan itu sepatutnya sudah cukup untuk membuat saya menolak tawaran terhormat itu. Namun Eka (pemilik Penerbit Tanda Baca) dan Pak Bre sendiri ternyata bersikukuh agar bukunya itu dibedah oleh penulis muda, dan saya dianggap pas. Pada akhirnya, demi rasa hormat saya kepada Pak Bre Redana —dan juga honor yang lumayan, tentu saja— saya menerima jua tawaran (beraroma paksaan) itu.

agus mulyadi bre redana

Sehari semalam saya dibikin gugup dan gelisah demi mempersiapkan materi pembedahan di acara peluncuran buku ‘Kritik, Fakta, Fiksi’ ini. Beruntung, acara berjalan dengan lancar, kelewar lancar malah. Saya juga merasa cara membedah saya tidak buruk-buruk amat.

‘Kritik, Fakta’ Fiksi’ merupakan buku yang berisi kumpulan Pak Bre Redana di rubrik Udar Rasa dari tahun 2017-2020. Pembaca setia rubrik itu pasti tahu bagaimana kualitas tulisan Pak Bre yang selalu penuh dengan permenungan yang sarat akan kejutan dan lompatan.

Ia misalnya, menulis tentang kemacetan di Jakarta yang membuat mobil maksimal hanya bisa melaju pada kecepatan 20 km per jam. Pak Bre kemudian membandingkannya dengan kecepatan kereta kuda pada masa-masa awal jalan raya Anyer-Panarukan yang ternyata tak jauh beda, yakni 18-20 km per jam. Hal yang kemudian memunculkan kegelisahan sebab transportasi kita yang selama ini kita anggap melesat menuju era modern, pada kenyataannya belum beranjak banyak dari kehidupan transportasi 300 tahun yang lalu.

Atau tengoklah betapa halusnya Pak Bre membuka sudut pandang baru tentang Solo yang pada beberapa aspek, cukup diuntungkan dengan rivalitas antara Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran. Alasannya sederhana, dua entitas kerajaan tersebut sama-sama menempatkan kebudayaan sebagai sesuatu yang sentral, sehingga persaingan keduanya justru menghasilkan produk kebudayaan yang nyata, Pak Bre mencontohkannya dengan Kasunanan yang membangun Taman Sriwedari yang kemudian disaingi oleh Mangkunegaran yang membangun Taman Balekambang.

Sebagai pembaca tulisan-tulisan Umar Kayam, bagi saya, tulisan-tulisan Pak Bre ini sangat sedap untuk dibaca. Ada banyak kosakata bahasa Jawa yang sengaja dipertahankan oleh Pak Bre. Timbang nglangut, dheleg-dheleg, mbelgedes, waton sulaya, dan sederet kosakata bahasa lainnya bisa ditemukan dengan cukup intens dalam tulisan-tulisan di buku ini. Pak Bre bahkan lebih suka menggantikan istilah “post-truth” dengan “pasca-kasunyatan” dalam tulisan-tulisannya.

Layout buku ini juga menyenangkan. Sebagai mantan layouter, saya bisa menyebut bahwa ini buku yang lux. Dengan font utama libre baskerville, buku ini dicetak dengan bookpaper 72 gram dan kertas cover old mill berkuping, hal yang membuatnya serupa kitab suci yang wajib bagi pembacanya berwudhu dahulu sebelum menyentuhnya.

Jika Anda tertarik ingin membeli buku ‘Kritik, Fakta, Fiksi’ versi premium, maka mohon maaf, seperti yang sudah saya katakan di awal, versi premium sudah habis terjual. Namun jika Anda menginginkan versi reguler (dan memang hanya itu pilihannya), buku ini bisa dibeli dengan harga 99 ribu. Dan tentu saja, Anda pasti sudah tahu, di mana Anda bisa membali buku keren ini bukan? Yak, tepat sekali, di Akal Buku. Toko buku kecil yang nomor WhatsApp-nya 082167371000 itu.

buku kritik, fakta, fiksi

buku kritik, fakta, fiksi

buku kritik, fakta, fiksi

buku kritik, fakta, fiksi

buku kritik, fakta, fiksi

buku kritik, fakta, fiksi

Belajar Menulis Lucu dari Buku ‘Humor Jurnalistik’-nya Mahbub Djunaidi

Menulis cerita lucu adalah satu hal, sedangkan menulis lucu adalah level yang lain. Anda mungkin bisa tertawa terbahak-bahak jika melihat langsung saat saya terjatuh terpeleset kulit pisang lalu wajah saya disambut tahi kebo seperti selayaknya adegan-adegan slapstick film Warkop itu. Namun saya yakin, Anda tidak akan tertawa (atau kalaupun tertawa, tidak akan seterbahak-bahak itu) saat adegan tersebut tidak Anda saksikan secara langsung, melainkan hanya Anda ketahui melalui tuturan tulisan.

Sebaliknya, Anda mungkin tidak akan tertawa jika berjumpa dengan Karni Ilyas atau David Letterman. Namun, Anda boleh jadi akan tertawa (minimal menyunggingkan senyum) jika Anda menemui Karni Ilyas dan David Letterman tidak secara langsung, melainkan dari narasi tulisan seperti di bawah ini.

David Letterman, lelaki bangkotan yang namanya bisa di-Indonesia-kan menjadi Daud Suratman itu adalah presenter yang amat kondang, kelasnya internasional. Kalau di level lokal, ada Karni Ilyas, sosok presenter yang amat berkharisma walau suaranya serak parau dan kalau ngomong harus sering dicicil selayaknya tagihan kulkas dari Columbia itu.

Nah, dalam urusan membikin lucu tulisan, saya kira tak ada yang lebih piawai ketimbang Mahbub Djunaidi. Ia, entah kenapa, selalu jenaka ketika memilih kata dan memanfaatkan majas dalam menarasikan sesuatu.

‘Sejak muda, saya tidak pernah bisa bermain bola. Ini membuat perasaan rendah diri, seakan-akan kaki saya cuma sebelah. Seringkali saya duduk termenung di tepi lapangan terheran-heran mengenang nasib. Kadangkala ada juga teman berbaik hati mengajak partisipasi. Tentu saja bukan ikut main, melainkan dipersilakan jaga sepeda.’

Itu adalah paragraf pembuka yang ia tulis dalam sebuah esai berjudul Kesatria. Bayangkan, hanya dalam paragraf pembuka saja, ia sudah mengemas dua humor sekaligus. “Seakan-akan kaki saya cuma sebelah”, dan “Tentu saja bukan ikut main, melainkan dipersilakan jaga sepeda”.

Mahbub sebenarnya cukup saja menuliskan bahwa ia tak pandai bermain sepakbola. Namun bukan Mahbub namanya kalau ia tak menambahkan bumbu humor.

Masih dalam esai yang sama, Mahbub menulis demikian: ‘Ada organisasi bernama Our Dumb Friend League, organisasi yang merawat binatang seperti keponakan sendiri.’

Ia tak mau menulis Our Dumb Friend League dengan narasi organisasi penyayang binatang, itu terlalu biasa. Dengan sangat jenius, ia menuliskannya dengan “Merawat binatang seperti keponakan sendiri.” Ini tentu level humor yang menyenengkan.

Ketika menuliskan aksi demontrasi di Luneta, Manila, Filipina pada 2 Oktokber 1960, alih-alih menggunakan kalimat “Anak-anak muda, dari usia remaja sampai anak ingusan”, Mahbub justru menuliskannya dengan “Berkerumun ratusan anak-anak. Sebagian sudah remaja, sebagian masih mengulum es lilin.”

Keparat betul, kenapa ia bisa kepikiran untuk menuliskan narasi ‘mengulum es lilin’ itu?

Atau simaklah bagaimana Mahbub menuliskan betapa dahsyatnya Moh. Isnaeni sebagai seorang wartawan itu.

‘Moh. Isnaeni bukanlah wartawan sembarang wartawan, melainkan biangnya wartawan. Ibarat beras, dia itu beras Cianjur. Apa yang lebih hebat daripada itu? Tidak ada. Andaikata dia bukan berasal dari Madiun, melainkan dari Isfahan di Iran, berani taruhan, pangkatnya sudah mullah. Ke mana telunjuknya menuding, ke sana orang bergegas, hingga tersandung-sandung.’

Mahbub piawai merangkai metafora, alegori, dan asosiasi. Apa yang harusnya serius, di tangannya bisa menjadi jenaka.

Tulisan-tulisannya selalu memikat bahkan sejak paragraf pertama. Maka, rasanya tak berlebihan jika saya selalu merekomendasikan buku Mahbub-buku Mahbub Djunaidi.

Kemarin, saat nongkrong di kafe Lehaleha milik bos besar Pak Yai Edi “Taipan” Mulyono itu, seorang mahasiswa mendadak mendatangi saya dan meminta tips menulis jenaka. Saya tak punya tips yang jauh lebih masuk akal selain “Baca buku Humor Jurnalistik-nya Mahbub.”

Tips itu pula yang sering saya katakan kepada banyak orang, utamanya kalau saya diminta menjadi pemateri tentang penulisan kreatif.

humor jurnalistik

Bersama Umar Kayam dan Prie GS, Mahbub adalah penulis yang tulisan-tulisannya sering saya baca ulang. Saya banyak belajar menulis lucu dari tulisan-tulisannya, dan merasa sangat terberkati karena diberi kesempatan untuk mengenal kolom-kolomnya.

Saya nyaris selalu merasa gagal kalau menulis sesuatu yang serius, ngintelek, ndakik-ndakik, kontemplatif, dan hal-hal luhur lainnya, maka menulis lucu adalah ruang kompetisi yang setidaknya saya merasa tidak gagal-gagal amat. Dan hal itu, sedikit banyak, ada campur tangan tulisan-tulisan Mahbub.

Kalau Anda tertarik ingin bisa menulis “lucu”, buku-buku Mahbub, utamanya yang ‘Humor Jurnalistik’ ini tentu layak menjadi bacaan penting bagi Anda.

Perihal Buku “Ibu Kemanusiaan: Catatan-Catanan Perempuan untuk 86 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif”

Sekira bulan puasa dua tahun lalu, saya bersama kawan-kawan Mojok dan Gusdurian mengunjungi Ahmad Syafii Maarif untuk syuting program “Sowan Kiai”. Kami menemuinya di masjid tak jauh dari rumahnya setelah salat tarawih selesai. Rencananya, kami akan merekam perbincangan kami dengan Syafii Maarif di beranda masjid, namun ia menyarankan agar syuting dipindah saja ke poskamling tak jauh dari masjid.

“Di sana lebih enak buat ngobrol santai,” ujarnya.

Kami setuju. Kami kemudian berpindah ke poskamling yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari masjid. Dan memang benar, poskamling itu jauh lebih memenuhi syarat sebagai set syuting ketimbang beranda masjid, kecuali satu hal, pekarangan di bagian kanan poskamling itu agak kotor karena dipenuhi guguran daun.

Kami pun berinisiatif untuk membersihkannya. Namun, belum juga kami selesai meletakkan kamera, tripod, dan berbagai perangkat lainnya, Syafii Maarif, tokoh besar itu ternyata sudah lebih dulu melakukan apa yang ingin kami lakukan. Ia menyapu daun-daun kotor itu lalu memasukannya ke dalam ekrak. Demi melihat adegan itu, saya reflek berusaha merebut sapu itu dan meminta agar saya menggantikannya. “Biar saya saja, Buya,” kata saya.

Namun ia menolak. Sambil tersenyum kecil, ia menjawab “Kamu pikir saya nggak bisa nyapu, apa?”

Modiar aku.

Kelak, saya tahu bahwa sikapnya yang keras dan tak mau merepotkan orang lain itu adalah sikap yang sudah ia praktikkan sejak lama.

Zen RS, dalam salah satu tulisannya pernah menceritakan kenangannya saat masih menjadi mahasiswanya Syafii Maarif, ia mengenang bagaimana seorang Syafii Maarif saat itu pernah menolak mentah-mentah saat ada mahasiswanya yang menawarkan diri membawakan tasnya yang berisi makalah.

“Anda pikir saya sudah terlalu tua sampai tidak kuat untuk membawa tas?” begitu kata Syafii Maarif.

Ahmad Syafii Maarif adalah tokoh yang terbukti teguh memegang komitmen. Saat masih menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, ia bahkan masih tetap rajin mengajar sebagai dosen. Masih menurut Zen RS, Syafii Maarif bahkan pernah marah kepada mahasiswanya karena kemampuan bahasa Inggris mahasiswanya berantakan.

“Mau jadi sejarawan kok bahasa asingnya kacau. Semester depan saya sendiri yang akan ngajar Bahasa Inggris. Kalian kalau mau ikut silakan masuk,” katanya saat itu yang kemudian benar-benar ia lakukan di semester berikutnya.

Ia pun dosen yang amat sangat teliti memeriksa makalah mahasiswanya. “Minggu lalu saya ke Amerika. Makalah kalian saya periksa di dalam pesawat. Jadi tolong jangan sia-siakan waktu saya dengan membuat makalah yang jelek!” Ujarnya suatu ketika kepada para mahasiswanya.

Baginya, jabatan adalah amanah yang tak pernah bisa disepelekan. Ia menjalankan tugasnya sebagai ketua umum Muhammadiyah dan juga sebagai dosen dengan penuh kesungguhan. Ia sosok yang selalu menolak tawaran menjadi komisaris BUMN namun gigih memperjuangkan uang royalti bukunya yang hanya mungkin nilainya tak seberapa. Ia bersetia menjadi pribadi yang berintegritas.

Hal-hal di atas tentu saja hanya segelintir dari sekian banyak kisah keteladanan tentang seorang Ahmad Syafii Maarif, keteladanan yang memang kelewat akrab, sebab saking banyaknya dan mudah sekali untuk menemukannya.

Nah, buku “Ibu Kemanusiaan: Catatan-catatan Perempuan untuk 86 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif” ini pun saya pikir merupakan salah satu potongan kecil katalog kisah-kisah keteladanan Ahmad Syafii Maarif.

Bahwa selayaknya buku yang memang diniatkan ditulis untuk mensyukuri ulang tahun seorang Ahmad Syafii Maarif, tentu saja ada banyak sekali puja dan puji untuknya, walau saya yakin, beliau tak lagi membutuhkan itu. Namun demikian, buku ini menjadi penting dan menarik semata karena orang-orang perlu tahu, kenapa seorang Ahmad Syafii Maarif amat berhak atas pujian-pujian itu.

buku ibu kemanusiaan

Ada begitu banyak jejak dan peran Syafii Maarif terhadap masyarakat dalam kehidupan berbangsa, berpikir, beragama, berpengetahuan, bahkan berkemuhammadiyahan yang ditulis dalam buku ini. Kesan-kesan luhur atas sosok Ahmad Syafii Maarif pun hampir bisa dibaca setiap dua-tiga halaman sekali.

Dan tentu saja, hal-hal itu layak untuk diceritakan. Dalam dunia yang semakin semrawut seperti sekarang ini, kisah-kisah tokoh yang penuh dengan keteladanan seperti Syafii Maarif memang akan selalu penting untuk disampaikan. Jika semangat kebangsaan itu selayaknya parfum, maka Syafii Maarif pastilah biangnya.

Satu hal yang unik dari buku ini, jika saya membandingkannya dengan buku ‘Gus Dur di Mata Perempuan’ (yang kebetulan sama-sama ditulis oleh sekelompok perempuan, dikatapengantari oleh perempuan, serta diedit oleh perempuan), adalah munculnya kritik dari para perempuan terhadap Syafii Maarif.

Dalam buku ‘Gus Dur di Mata Perempuan’, para penulisnya (Ida Fauziah, Andree Feilard, Lily Zakiah Munir, dll) menyampaikan tentang Gus Dur sebagai sosok yang amat progresif utamanya dalam hal kesetaraan gender. Sedangkan buku ‘Ibu Kemanusiaan’ justru menjadi buku yang “agak” mengkritik Syafii Maarif yang dianggap sangat sering menulis tentang isu kebangsaan, Islam, dan demokrasi namun sangat jarang menulis tentang isu kesetaraan gender. Padahal, dalam urusan kesetaraan gender, Ahmad Syafii Maarif adalah juga sosok yang progresif. Ia sangat menjunjung tinggi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut, Syafii Maarif juga dikenal sebagai tokoh yang terus mendorong adanya upaya reinterpretasi terhadap ayat Al-Quran Arrijalu qowwamuna 'alannisa (Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan) untuk mewujudkan semangat kesetaraan.

Sayang, sikap keberpihakan terhadap kesetaraan gender tersebut jarang diungkapkan oleh Syafii Maarif yang justru lebih banyak menulis tema-tema kebangsaan, islam, dan juga demokrasi. Nah, itulah yang kemudian membuat Syafii Maarif agak “dikritik” dalam buku ini.

Direktur eksekutif Woman Research Institute Sita Aripurnami, misalnya, menuliskan harapannya dalam tulisannya di buku ini agar Syafii Maarif lebih banyak menulis tentang perjuangan kemanusiaan perempuan. Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif Democracy and Electoral Empowerment Partnership yang juga aktif sebagai anggota Lembaha Hukum dan Publik PP Muhammadiyah dan aktivis Nasyiatul Aisyiyah Neni Nur Hayati yang agak “menyayangkan” Syafii Maarif karena belum melahirkan buku yang secara khusus membahas dan konsen terhadap isu-isu perempuan dan kesetaraan gender utamanya dalam perspektif demokrasi.

Munculnya kritik-kritik (di sampung segala puja-puji terhadap Syafii Maarif) dalam buku ini kemudian terasa menjadi semacam lanjutan kritik KH. Husein Muhammad atas karya Syafii Maarif (KH. Husein Muhammad pernah mengkritik buku Syafii Maarif ‘Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan’ karena sama sekali tidak membahas kesetaraan gender dan posisi perempuan dalam Islam. Kritik yang kemudian membuat Syafii Maarif kemudian memasukkan satu bab khusus tentang kesetaraan gender dalam buku yang sama pada cetakan berikutnya).

Bagi saya, munculnya kritik dalam buku ini justru menjadi bukti bahwa banyak orang yang menyayangi Syafii Maarif, sebab toh bagi seorang Syafii Maarif, kritik merupakan tanda sayang dan rindu.

Pada akhirnya, buku ini saya anggap sangat berhasil sebagai hadiah ulang tahun ke-86 untuk Syafii Maarif. Tak ada yang lebih menyenangkan bagi seseorang yang sedang berulang tahun selain mendapatkan doa-doa yang baik, disertai dengan kritik-kritik yang baik pula.

Selamat ulang tahun, Buya.

(Hari ini, Ahmad Syafii Maarif berulang tahun yang ke-86, mari kita sejenak mendoakan beliau agar terus sehat dan panjang umur.)