Kelancaran dan Kebuntuan

Sejak memasuki perbatasan Jawa Tengah-Jogja, baru saya sadari bahwa saya tidak pernah berhenti di lampu merah. Di setiap perempatan yang ada lampu merahnya, saya selalu bisa jalan terus tanpa berhenti.

Dua lampu merah pertama menunjukkan tanda warna kuning berkedip, yang artinya para pengendara bisa terus melaju asal berhati-hati, sedangkan pada lampu merah berikutnya, kebetulan selalu dijaga polisi yang mempersilakan para pengendara dari arah Jogja dan sebaliknya untuk jalan terus sebagai bagian dari pengaturan rekayasa lalu-lintas arus balik.

Saya berseru girang pada Kalis yang membonceng di belakang. “Wah, enak ya, Lis. Dari tadi tiap ketemu lampu merah, kita nggak pernah berhenti. Jalan terus.”

“Iyo, Mas. Jarang-jarang ngene iki,” timpalnya.

Tentu saja saya menikmati momen-momen kelancaran arus jalan yang walau ramai namun tetap lancar karena tidak terganggu oleh lampu merah itu. Kegembiraan sejenak yang memang jarang saya rasakan tiap kali berkendara dari Magelang ke Jogja atau sebaliknya.

Namun, tak butuh waktu lama untuk mengubah kegembiraan yang saya rasakan itu menjadi semacam sesal yang menyebalkan.

Sampai di perempatan lapangan Dengung, seorang penjaja koran tampak duduk di dekat lampu merah dengan wajah termenung menyaksikan deretan kendaraan di depannya yang melaju lancar bahkan walau lampu masih merah karena memang ada petugas polisi yang mengatur agar kendaraan terus melaju.

Saya tercekat melihat pemandangan itu. Kegembiraan yang baru beberapa menit saya rasakan itu kemudian bergerak menjadi semacam beban.

Saya baru tersadar, bahwa arus lalu lintas yang lancar jaya tanpa pemberhentian lampu merah itu, secara tidak langsung merenggut ruang-ruang nafkah tidak sedikit orang. Salah satunya si pedadang koran yang duduk termenung itu.

Entah ada berapa banyak lagi pedagang koran, pengamen, penjual kanebo, penjual tahu, penjual salak, dan penjual-penjual lainnya yang harus merelakan ruang berdagangnya “hilang” karena kelancaran lalu lintas itu.

Betapa saya baru menyadari, bahwa “kelancaran” bagi satu orang adalah “kebuntuan” bagi orang yang lain.

Walau sebenarnya tak ada yang perlu saya sesalkan, namun saya tetap saja merasa bersalah karena ikut merayakan kelancaran arus lalu-lintas tanpa pemberhentian lampu merah itu.

“Aku jadi merasa aneh sekarang, Lis,” kata saya mencoba menjelaskan perasaan saya yang campur aduk. “Semoga kelancaran arus yang tadi kita rasakan itu hanya sebentar saja, ya.”

“Tidak usah kamu pikir, Mas, bisa stres sendiri nanti kalau kamu mikir hal-hal seperti itu,” kata Kalis.

Saya terdiam, berusaha mengikuti apa kata Kalis. Tampaknya, memang tidak seharusnya saya memikirkan hal-hal yang seharusnya biasa saja itu.

Kalau koran yang dijual oleh penjaja koran itu tak laku, itu hal yang biasa saja. Kalau ada penjual tahu yang sampai sore dagangannya hanya berkurang beberapa bungkus, itu hal yang biasa saja. Kalau ada penjual salak yang pulang hanya membawa uang 10 ribu sedangkan anak dan istrinya menanti dengan bayangan dia dapat banyak uang, itu hal yang biasa saja. Bahkan, kalau ada penjual kanebo yang terserempet truk hingga tewas karena dirinya tidak waspada dan tergelinjir saat berlari menyongsong jalanan, itu juga hal yang biasa saja.

Benar kata Kalis, saya bisa stres sendiri kalau terlalu memikirkan hal-hal yang biasa itu.

Kemalangan, kemiskinan, kenestapaan, peruntungan yang buruk, takdir yang kejam, bahkan maut yang tragis, semuanya adalah hal yang biasa.

Roda nasib masih dan akan selalu berwujud makhluk bertangan dingin. Dan kita semua harus terbiasa.
Share: