Keseimbangan Cosmis Desa dan Kota

Pemandangan hijaunya sawah dengan aliran sungai yang bening dan menyejukkan itu bagi banyak orang desa tentu adalah hal yang biasa. Hal yang memang sudah sehari-hari menjadi makanan mereka.

Namun bagi banyak orang kota, hijaunya hamparan sawah yang bikin hati tenteram itu adalah pemandangan yang tentu saja jarang dilihat oleh mata mereka yang lebih terbiasa melihat hamparan gedung beserta orang-orangnya yang serba bergegas di jalanan.

Bagi banyak orang-orang desa, menanam padi, memandikan kerbau, bersepeda onthel di jalanan kampung atau berjalan-jalan seturut pematang sawah adalah pekerjaaan sehari-hari. Namun bagi orang-orang kota, aktivitas tersebut adalah bagian dari paket outbond yang harganya kadang tak bisa dinalar oleh akal pedesaan.

Maka, tak heran jika kemudian pemandangan-pemandangan seperti itu, lengkap dengan segala aktivitasnya banyak “dikomersilkan” menjadi dagangan. Banyak tempat wisata, rumah makan, juga penginapan, yang menjual “kedesaan”-nya.

Mungkin memang begitulah seharusnya. Semata agar keseimbangan kosmis tetap terjaga. Orang-orang desa yang selalu menganggap kota sebagai entitas yang modern, maju, dan serba gemerlap itu harus sadar, bahwa di kota, ada banyak orang-orang yang mau membayar mahal untuk bisa menjadi “orang desa” barang sehari dua.

Orang kota tak pantas jumawa, orang desa pun harus sadar bahwa dirinya diberkahi dan berdaya.

Pertanyaan Lebaran

Entah kenapa, di hari lebaran ini, di media sosial, banyak yang baper dengan aneka pertanyaan-pertanyaan menyebalkan dari sanak, saudara, dan kerabat. Pertanyaan yang, dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi padahal sebenarnya biasa saja dan sama sekali tidak perlu dirisaukan.

Kapan nikah, kapan lulus, kok dari dulu nggak naik pangkat, sekarang kok tambah subur saja badannya, kok masih sendirian aja, dsb, dsb.

Keluarga, utamanya yang sudah lama tak berjumpa fisik, sering kali memang kehabisan bahan untuk berbasa-basi, sehingga pertanyaan-pertanyaan model begitu kerap menjadi ban serep yang paling ampuh.

Sayang, beberapa orang mungkin memang terlalu perasa atau memang tidak terlalu bisa menangkap hal tersebut.

Di facebook, tak sedikit yang menuliskan rasa sebalnya karena oleh tante-tantenya ditanya “Kapan nikah?”

Dengan kejam (untuk tidak menyebutnya bengis), mereka menganggap tante mereka tak punya etika, menyebalkan, dan aneka sematan buruk lainnya.

Padahal jika dilihat dari sudut yang berbeda, pertanyaan itu, di luar bahan basa-basi, bisa juga merupakan salah satu bentuk verbal kepedulian mereka pada keponakan-keponakannya.

Dengan bertanya kapan nikah, itu menjadi bukti bahwa mereka ikut bersuka-cita kalau kita menikah.
Tapi kan menikah itu urusan kita sendiri, bukan urusan mereka?

Urusan kita sendiri gundulmu. Tantemu, bulikmu, paklikmu, budemu, embahmu, kerabat dekatmu, semua berhak punya urusan pada pernikahanmu. Mereka orang pertama yang bakal sambatan, yang bakal cawe-cawe, yang bakal menyumbang tenaga dan (mungkin) harta paling besar demi lancarnya acara resepsimu.

Orang-orang terdekatmu, keluargamu, kerabatmu, selalu punya andil yang besar pada hidupmu.

Beda soal kalau yang tanya itu bukan keluargamu. Kalau yang ini, kamu jawab dengan judes pun silakan. Bahkan kalau perlu, digas sekalian, misal pas mereka nanya “Kapan nikah?” jawab saja, “Entar ah, masih pengin freesex!” Hahaha.

Dulu saya punya bulik yang sering sekali bertanya soal sekolah saya. Nilai saya bagus apa tidak, di sekolah dapat ranking berapa? Dsb, dsb.

Pada titik tertentu, pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlihat sangat mengganggu, utamanya jika saya ternyata adalah murid yang goblok dengan lebih banyak nilai di raport yang berwarna merah ketimbang biru.

Namun belakangan baru saya ketahui, bulik saya itulah yang, dulu saat orangtua saya kesulitan membayar uang sekolah, ikut membantu membayarkan uang sekolah saya. Dia bahkan pernah menjual ali-ali emas miliknya demi meminjami orangtua saya uang untuk saya masuk ke SMA.

Dengan fakta tersebut, kalau kemudian saya menganggap pertanyaan2 bulik saya adalah pertanyaan yang tidak sepantasnya, maka betapa kurangajarnya saya.

Keluarga adalah tembok terdekat dalam lingkaran kehidupan kita. Jangan pernah membangun jarak dan perasaan-perasaan yang tidak perlu.

Di hari lebaran, kebersamaan dengan keluarga jauh lebih mahal ketimbang sekadar rasa baper oleh pertanyaan-pertanyaan yang dianggap membosankan dan menyebalkan itu.

Percayalah, mereka bukan sekadar bertanya kapan nikah, lebih dari itu, mereka juga berharap dan bahkan ikut mendoakannya.

Memaknai Mudik

Ramadhan sudah hampir selesai. Jumlah saf salat tarawih sudah mulai berada di angka yang memprihatinkan. Orang-orang mulai sibuk mempersiapkan mudik. Sebuah migrasi besar-besaran yang kerap menjadi semacam tantangan terbuka bagi Pemerintah. Ia menjadi parameter sukses atau tidaknya seorang Menteri Perhubungan dalam menjalankan tugas.

Puncak amalan ramadhan adalah zakat fitrah, sedang puncak kulturalnya adalah mudik. Keduanya adalah dua entitas yang berbeda, namun sama-sama punya satu misi: penyucian.

Mudik, bagi banyak orang adalah perjalanan panjang menuju hari yang baru. Ia jauh lebih punya makna ketimbang sekadar perjalanan menuju alun-alun di malam tahun baru untuk menonton indahnya kembang api. Sebagai sebuah perjalanan, mudik adalah salah satu perjalanan yang paling pantas untuk diperjuangkan. Harga tiket boleh mahal, kondisi transportasi boleh amburadul, bekal pun boleh tak seberapa, namun begitu, mudik harus tetap jalan.

Mudik menjadi ritual yang sangat berarti, sebab ia memang menjadi ajang pelarian yang paling menyenangkan. Ia semacam pengikis endapan segala rupa yang serba menyedihkan di rantau: angkuhnya kota, galaknya atasan, menyebalkannya rekan kerja, egoisnya gaya hidup urban, dan segala pergulatan-pergulatan buruk lainnya.

Di kota, menusia tumbuh menjadi manusia yang tidak manusia. Ia tumbuh pada kultur yang sangat bukan dirinya. Lingkungan yang jauh dari guyubnya desa, tuntutan pekerjaan yang kejam dan sering tidak beperikemanusiaan, pergaulan yang terlalu showbiz, mau tak mau membuat banyak manusia lupa akan identitasnya. Di kota, manusia hidup dengan sangat mekanis.

Mudik jadi punya posisi yang penting, sebab ia menawarkan terapi yang paling tokcer untuk mengembalikan manusia pada kediriannya. Bertemu dengan keluarga, kerabat, sanak-saudara, di tempat yang begitu hangat, dengan makanan yang terasa akrab di lidah.

Mudik menjadi pembuktian paling hakiki, bahwa semaju dan sesukses apa pun seseorang di rantau, ia tetaplah anak ingusan dari kampung halaman.

Pada akhirnya, momen mudik lebaran memang menjadi laku yang begitu emosional. Perjalanan kembali ke kampung halaman itu tak hanya menarik kita kepada kenangan-kenangan nostalgik yang semakin hari semakin terkikis. Lebih dari itu, ia mengedarkan ingatan pada halaman rumah di mana kita biasa bermain gundu, pohon di mana kita dulu terbiasa mencuri rambutan, atau sungai di mana kita dulu sering mandi telanjang bersama kawan-kawan.

Perjalanan kembali itu menjadi begitu suci, ia tak ubahnya seperti ritual haji, dengan rumah sebagai kakbahnya, yang terus saja kita pandangi, dan telapak tangan ibu kita sebagai hajar aswatnya, yang tak henti-hentinya kita ciumi.

Kita semua boleh saja menunaikan sholat subuh di masjidil haram, sholat dhuhur di mushola kecil di salah satu sudut pusat perbelanjaan, sholat ashar di rest area tepi jalan pantura, sholat maghrib di masjidil aqsa, sholat isya di kamar kosmu yang bau dan butut, atau sholat tarawih di pelataran Monas. Tapi khusus untuk sholat Ied, kita semua sepertinya sepakat, bahwa tempat terbaik untuk menunaikannya adalah di halaman masjid di kampung kelahiran kita sendiri.

Untuk kalian yang sudah mudik, selamat bernostalgia. Nikmati mudikmu. Tuntaskan rindumu, dan syukuri lebaranmu. Di luar sana, ada banyak orang yang terpaksa menangis sedih sebab tak bisa pulang ke kampung halaman.

Sebuah fragmen tak terbayangkan, yang oleh Didi Kempot dilantunkan dengan begitu sentimentil dalam tembangnya “Tulisan Tangan”

“Udan-udan dalane lunyu…

“Lintange ndelik mbulane turu…

“Langite mendung ing wanci ndalu…

“Nambahi kangene atiku…

“Sworo takbir ngelingke aku…

“Pengin nangis jroning batinku…

“Karep mulih ora nduwe sangu…

“Ra biso sungkem romo lan ibu…