Menilai Seseorang Lewat Busana

Jangan menilai seseorang dari pakaiannya, tapi nilailah dari hati, sifat, kelakuan, dan perangainya.

Terlihat mudah, tapi nyatanya sangat sulit.

Ada banyak orang yang tak punya cukup waktu untuk bisa menilai kita dari hati, sifat, kelakuan, dan perangainya. Maka, salah satu jalan pintasnya ya lewat pakaian.

Itulah sebabnya kenapa kalau interview kerja kita harus datang dengan pakaian yang tertib, kenapa kalau kita datang bertamu ke rumah seseorang kita sebaiknya menggunakan busana yang rapi, kenapa kalau kita datang ke rumah seseorang untuk melamar harus berpakaian yang sopan.

Bahkan saat sholat, meratap pada Gusti Alloh, entitas yang sudah pasti tahu bagaimana hati, sifat, dan perangai kita, kita tetap diperintahkan untuk menggunakan pakaian yang bersih, yang baik.

Kalau kata pepatah Jawa, "Ajining Diri Soko Lathi, Ajining Rogo Soko Busono"

Jadi kalau ada yang menganggap kita adalah orang yang urakan, tak bisa diharapkan, dan tidak teratur, hanya karena pakaian yang kita kenakan berantakan, maka mereka tidak sepenuhnya salah.

Dilan dan Standar Romantisme

Untuk ukuran anak SMA, memberikan hadiah berupa bunga sebenarnya adalah salah satu bentuk puncak romantisme yang mungkin bisa diciptakan dan diusahakan.

Hal tersebut bertahan sangat lama. Hingga kemudian, Dilan hadir dan mengacaukannya.

Perangai dan gerak-gerik romantisme yang Dilan bawa membuat standar romantis anak-anak SMA terkerek terlalu tinggi.

Untuk jadi cowok SMA romantis, kau harus seperti Dilan. Yang bisa nggombal dengan receh, yang bisa meluncurkan kata-kata manis, dan yang bisa memberikan buku TTS yang sudah ada isinya.

Kalau kau hanya bisa memberi bunga, maka kau tak ubahnya seperti Nandan, Beni, ataupun Kang Adi.

Dan kita tahu, baik Nandan, Beni, maupun Kang Adi, ketiganya merana dan kalah dengan caranya masing-masing.

Ya Tuhan, semoga adek-adek cewek yang masih pada SMA itu sadar diri dan tak terlalu berharap menjadi Milea. Sebab kasihan mereka kalau sampai kecewa karena lelakinya tak seromantis Dilan.

Komedian Banting Humor

Jauh sebelum Kiwil berubah dari pelawak menjadi penceramah. Kirun sudah lebih dulu punya pengalaman itu. Bahkan, kalau mau menarik benang lebih jauh, Junaedi, legenda dagelan mataram yang namanya hanya kalah kondang dari Basiyo itu juga menjadi penceramah sebelum akhirnya menutup usia.

Apakah salah seorang pelawak memberikan ceramah dan tausyiah? Tentu saja tidak. Tak ada yg salah. Lha wong dasarnya jelas, sampaikanlah walau hanya satu ayat.

Yang salah itu kalau kemudian dengan mudah menahbiskan diri atau orang lain sebagai ustad, padahal kapasitas keilmuannya meragukan dalam agama.

Legitimasi berbicara tentang agama tanpa ilmu kadang jauh lebih berbahaya dari apapun.

Dan kita sering melakukannya.