Sebuah Pesan di Majlis Doa Bersama Lintas Agama

Salah satu praktik gebyah-uyah paling gawat saat ini boleh jadi adalah menganggap kejahatan yang dilakukan oleh pemeluk agama tertentu di satu wilayah tertentu sebagai representasi atas sikap seluruh pemeluk agama tersebut di seluruh wilayah di dunia.

Praktik menyamaratakan dan menghitamputihkan sesuatu ini tentu saja harus dihalau, sebab selain merendahkan nalar pikir, praktik ini juga berpotensi menimbulkan perpecahan.

Hal tersebut agaknya pas jika kita tautkan dengan kejadian yang sedang menimpa masyarakat Rohingya di Myanmar. Kekejaman pemerintah Myanmar kepada orang-orang Rohingya tidak bisa diartikan sebagai sikap orang-orang Budha di daerah lain hanya karena kebetulan mayoritas orang Myanmar beragama Budha.

"Dalam kitab kami, tak ada satu pun kalimat yang mengajarkan kekerasan, sebab kami meyakini, dalam ajaran kami, selalu berlaku hukum karma, berlaku baik berakibat kebaikan, dan berlaku jahat berakibat keburukan," ujar Bante Abhijato, bhiksu dari Vihara Mendut.

"Semua agama pasti punya kelompok ekstremisnya sendiri-sendiri, sekali lagi, semua agama, dan mereka tidak bisa dijadikan representasi atas sikap agama tersebut secara keseluruhan. Sama seperti ISIS yang tak bisa dijadikan sebagai perwakilan sikap Islam walau mereka mengaku Islam," kata Kyai Said Asrori.

Majlis doa bersama lintas agama bertajuk "Cinta untuk Rohingya" yang dihelat oleh Jamaah Kopdariyah semalam semakin meyakinkan saya, bahwa Tidak dalam keadaan beragama seseorang yang tega membantai dan membunuh sesamanya. Sebab semua agama selalu mengajarkan welas asih dan cinta.





Nonton Musi Triboatton 2016

Entah bagaimana caranya, dan dengan lobi macam apa, saya kok ya bisa-bisanya diundang sama Kementerian Pariwisata jadi salah satu blogger yang berkesempatan buat meliput acara Musi Triboatton 2016 di Palembang. Lha siapa yang ndak girang, bisa berkunjung ke Palembang dan nonton lomba perahu tingkat internasional di sana. Mangkanya, sebelum melanjutkan tulisan ini, izinkan saya buat mengucap syukur kepada Gusti Alloh...

"Alhamdulillah ya Alloh, terima kasih atas rejeki piknik ini"

Oke, lanjut.

Jadi, sekarang, akan saya jelaskan tentang apa itu Musi Triboatton. Jadi, Musi Triboatton merupakan paduan wisata penjelajahan atau penyusuran sungai dengan lomba dayung variatif menggunakan tiga jenis perahu (boat) yaitu; river boat, kayak, dan dragonboat alias perahu naga. Event ini sudah rutin diadakan di Palembang. Tujuannya selain sebagai event olahraga, juga untuk mempromosikan wisata Palembang.

Tak perlu dapat medali dulu biar bisa foto di sini... hahaha

Musi Triboatton 2016 terbagi menjadi beberapa etape, diantaranya adalah Tanjung Raya Kabupaten Empat Lawang, Muara Kelingi (Kabupaten Musirawas), Sekayu (Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin (Kabupaten Banyuasin), dan finish di Kota Palembang. Lomba ini diikuti oleh banyak peserta baik dari dalam maupun luar negeri, diantaranya adalah China, Macau, Philipina, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Jawa Timur, Jambi, Yonif 133 Padang, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan 1, Sumatera Selatan 2, Jawa Barat, Bangka Belitung dan DKI Jakarta.

Pembukaan Musi Triboatton 2016

Lomba yang telah digelar untuk yang kelima kalinya ini akan diikuti peserta dari berbagai negara dan daerah. Tercatat ada 16 tim dayung yang dipastikan ikut ambil bagian di lomba dayung terbuka ini, antara lain China, Macau, Philipina, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Jawa Timur, Jambi, Yonif 133 Padang, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan 1, Sumatera Selatan 2, Jawa Barat, Bangka Belitung dan DKI Jakarta.

Persiapan masing-masing kontingen sebelum ke garis start

Kontingen Malaysia sedang pemanasan, itu, ada upin ipin

Di sela-sela lomba, anak-anak numpang mandi

Nah, Untuk kunjungan saya kali ini, saya berkesempatan menyaksikan perlombaan di etape Sekayu di Musi Banyuasin untuk cabang lomba perahu naga.

Diangkut sama tim Sar ke garis start

Musi Triboatton edisi Etape Sekayu ini digelar di Sekayu Waterfront yang merupakan taman kota dan kawasan terbuka hijau yang menghadap langsung ke sungai Musi.

Sekayu Waterfront, tempat berlangsungnya etape Sekayu

Pertandingan di Sekayu Waterfront ini sangat seru dan mengasyikkan, terlebih jika yang bertanding adalah tim lokal Sekayu, karena setiap tim lokal punya pendukung militan masing-masing. Jadi, saat perlombaan dimulai, para penonton akan bersorak sorai memberikan dukungan untuk masing-masing tim yang didukung. Pokoknya sangat judiable dan taruhanable deh.

Jalannya pertandingan, maaf, kameranya jelek, jadi ndak bisa ngezoom lebih jauh

Hasil pertandingan etape Sekayu ini nantinya akan diakumulasi dengan hasil pertandingan di etape-etape berikutnya. Di akhir lomba, Jambi tampil menjadi juara dengan perolehan 3 emas, 5 perak, dan 1 perunggu.




Takjub dengan Al-Akbar, Al Quran Ukir Terbesar di Dunia

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa kawan blogger diundang oleh Kementerian Pariwisata Indonesia untuk menyaksikan dan meliput gelaran acara Musi Triboatton 2016 di Palembang.

Tentu selain meliput acara, kami para blogger juga diajak berwisata untuk menikmati aneka obyek wisata yang ada di Palembang.

Salah satu obyek wisata yang kami kunjungi adalah Al-Quran Al-Akbar yang ada di Museum Al-Quran Al-Akbar di kompleks Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah, Soak Bujang Gandus, Palembang. Al-Quran Al-Akbar adalah Al Quran ukir terbesar di dunia yang pembuatannya diprakarsai oleh H. Syofatillah Mohzaib.



Al Quran ukir ini mulai dibuat tahun 2002. Saat itu, H. Syofatillah Mohzaib yang memang merupakan ahli kaligrafi baru saja menyelesaikan pemasangan kaligrafi pintu dan ornamen masjid Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Ornamen kaligrafi yang ia buat untuk masjid Sultan Mahmud Badaruddin II itu rupanya membuat H. Syofatillah Mohzaib tertantang untuk membuat Mushaf Al-Quran dengan teknik ukiran. Maka, dimulailah proyek membuat Al-Quran ukir yang kelak akan menjadi yang terbesar di dunia itu.







Materi ukiran terbuat dari kayu khas Palembang, yaitu kayu tembesu. Proses pembuatan Al-Quran Al-Akbar ini selesai pada tahun 2008 setelah sempat mengalami kemoloran beberapa kali akibat harga kayu tembesi yang beberapa kali melonjak tinggi.





Al Quran Al-Akbar diresmikan tanggal 30 Januari 2012 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta perwakilan dari 51 negara Islam, se-Dunia bersamaan dengan acara Konferensi Parlemen Islam Dunia di Palembang.



Al Quran Al-Akbar ini dinobatkan sebagai Al-Quran ukiran kayu pertama dan terbesar di Indonesia dan dunia oleh Museum Rekor Indonesia.