Haru di Sekolah Tenera

Selama dua hari terakhir ini, saya berada di tengah-tengah perkebunan sawit di daerah Pasar Sebelat, Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu Utara, Bengkulu.

Di provinsi yang terkenal sebagai tempat kelahiran mendiang ibu negara Fatmawati ini, saya mengajar menulis untuk anak-anak di SD, SMP, dan SMA Tenera. Sebuah sekolah swasta terpadu yang dibangun untuk memfasilitasi pendidikan anak-anak pekerja perkebunan sawit Pasar Sebelat.



Ini pengalaman pertama saya mengajar anak-anak di wilayah perkebunan sawit.

Di sekolah Tenera ini, para siswa berasal dari latar belakang daerah yang beragam. Maklum saja, orangtua mereka memang sebagian besar adalah para perantau yang menggantungkan peruntungan sebagai pekerja perkebunan sawit.

Ada anak-anak Jawa, Sunda, Batak, Palembang, dan beberapa yang lain. Diajak nyanyi lagu “Sayang opo kowe krungu” mereka bisa. Diajak nyanyi lagu “Makan daging anjing dengan sayur kol” mereka pun siap.



Ada sensasi menyenangkan dan mengharukan saat saya mengajar di sekolah tersebut.

Saya ingat, sesaat sebelum saya mulai mengajar anak-anak SMA, saya disambut oleh tarian daerah oleh para siswa. Saya juga dikalungi kalung bunga sebagai tanda penyambutan.

Hal tersebut juga terjadi saat saya mengajar anak-anak SD dan SMP.

Saya disambut dengan tari tor-tor dan diberi persembahan berupa hiasan bunga hasil karya para siswa. Tak cukup di situ, mereka juga mempersembahkan sebuah lagu untuk saya.

Sungguh, ini pengalaman pertama saya memberikan kelas menulis dengan penyambutan yang begitu mengharukan.



Satu yang paling saya ingat tentu saja adalah bagaimana cara mereka berdoa tiap sesi kelas selesai yang dipimpin oleh salah satu perwakilan siswa.

Di sesi kelas pertama, saya masih ingat samar-samar bagaimana doa mereka.

“Ya Allah, terima kasih hari ini engkau telah memberikan kami kesempatan untuk belajar. Dari awal, pertengahan, sampai kelas selesai. Terima kasih atas ilmu yang sudah engkau berikan kepada kami melalui Kak Agus Mulyadi. Berikanlah rahmat, rejeki, dan usia yang panjang untuk Kak Agus Mulyadi. Ya Allah, semoga engkau tak pernah lelah memberikan kami berkah. Subhanakallahumma wabihamdika…”

Di sesi kedua, saya hampir tak bisa menahan air mata saya untuk keluar.

“Terima kasih Yesus, terima kasih bapa atas penyertaanmu. Terimakasih sudah menyertai kami belajar dari awal, pertengahan, sampai kelas selesai. Hari ini kami belajar banyak dari Kak Agus Mulyadi. Terima kasih atas ilmu yang sudah engkau berikan. Jadikanlah kami menusia-manusia yang berilmu dan berguna. Kami manusia yang penuh dosa. Ampunilah dosa kami, dosa bapak Ibu guru kami, dosa Kakak Agus Mulyadi. Setelah ini, kami akan pulang ke rumah, berkumpul dengan keluarga kami. Sertailah perjalanan pulang kami. Dan berkahilah hidup kami. Di dalam nama Yesus kristus. Terima kasih, Bapa.”

Tepat saat perwakilan siswa membacakan doa tersebut, mata saya mulai berair.

Ingin rasanya saya membisiki anak-anak ini satu per satu: “Kalian hebat. Jangan jadi dewasa, mereka bangsat…”

Keseimbangan Cosmis Desa dan Kota

Pemandangan hijaunya sawah dengan aliran sungai yang bening dan menyejukkan itu bagi banyak orang desa tentu adalah hal yang biasa. Hal yang memang sudah sehari-hari menjadi makanan mereka.

Namun bagi banyak orang kota, hijaunya hamparan sawah yang bikin hati tenteram itu adalah pemandangan yang tentu saja jarang dilihat oleh mata mereka yang lebih terbiasa melihat hamparan gedung beserta orang-orangnya yang serba bergegas di jalanan.

Bagi banyak orang-orang desa, menanam padi, memandikan kerbau, bersepeda onthel di jalanan kampung atau berjalan-jalan seturut pematang sawah adalah pekerjaaan sehari-hari. Namun bagi orang-orang kota, aktivitas tersebut adalah bagian dari paket outbond yang harganya kadang tak bisa dinalar oleh akal pedesaan.

Maka, tak heran jika kemudian pemandangan-pemandangan seperti itu, lengkap dengan segala aktivitasnya banyak “dikomersilkan” menjadi dagangan. Banyak tempat wisata, rumah makan, juga penginapan, yang menjual “kedesaan”-nya.

Mungkin memang begitulah seharusnya. Semata agar keseimbangan kosmis tetap terjaga. Orang-orang desa yang selalu menganggap kota sebagai entitas yang modern, maju, dan serba gemerlap itu harus sadar, bahwa di kota, ada banyak orang-orang yang mau membayar mahal untuk bisa menjadi “orang desa” barang sehari dua.

Orang kota tak pantas jumawa, orang desa pun harus sadar bahwa dirinya diberkahi dan berdaya.

Pertanyaan Lebaran

Entah kenapa, di hari lebaran ini, di media sosial, banyak yang baper dengan aneka pertanyaan-pertanyaan menyebalkan dari sanak, saudara, dan kerabat. Pertanyaan yang, dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi padahal sebenarnya biasa saja dan sama sekali tidak perlu dirisaukan.

Kapan nikah, kapan lulus, kok dari dulu nggak naik pangkat, sekarang kok tambah subur saja badannya, kok masih sendirian aja, dsb, dsb.

Keluarga, utamanya yang sudah lama tak berjumpa fisik, sering kali memang kehabisan bahan untuk berbasa-basi, sehingga pertanyaan-pertanyaan model begitu kerap menjadi ban serep yang paling ampuh.

Sayang, beberapa orang mungkin memang terlalu perasa atau memang tidak terlalu bisa menangkap hal tersebut.

Di facebook, tak sedikit yang menuliskan rasa sebalnya karena oleh tante-tantenya ditanya “Kapan nikah?”

Dengan kejam (untuk tidak menyebutnya bengis), mereka menganggap tante mereka tak punya etika, menyebalkan, dan aneka sematan buruk lainnya.

Padahal jika dilihat dari sudut yang berbeda, pertanyaan itu, di luar bahan basa-basi, bisa juga merupakan salah satu bentuk verbal kepedulian mereka pada keponakan-keponakannya.

Dengan bertanya kapan nikah, itu menjadi bukti bahwa mereka ikut bersuka-cita kalau kita menikah.
Tapi kan menikah itu urusan kita sendiri, bukan urusan mereka?

Urusan kita sendiri gundulmu. Tantemu, bulikmu, paklikmu, budemu, embahmu, kerabat dekatmu, semua berhak punya urusan pada pernikahanmu. Mereka orang pertama yang bakal sambatan, yang bakal cawe-cawe, yang bakal menyumbang tenaga dan (mungkin) harta paling besar demi lancarnya acara resepsimu.

Orang-orang terdekatmu, keluargamu, kerabatmu, selalu punya andil yang besar pada hidupmu.

Beda soal kalau yang tanya itu bukan keluargamu. Kalau yang ini, kamu jawab dengan judes pun silakan. Bahkan kalau perlu, digas sekalian, misal pas mereka nanya “Kapan nikah?” jawab saja, “Entar ah, masih pengin freesex!” Hahaha.

Dulu saya punya bulik yang sering sekali bertanya soal sekolah saya. Nilai saya bagus apa tidak, di sekolah dapat ranking berapa? Dsb, dsb.

Pada titik tertentu, pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlihat sangat mengganggu, utamanya jika saya ternyata adalah murid yang goblok dengan lebih banyak nilai di raport yang berwarna merah ketimbang biru.

Namun belakangan baru saya ketahui, bulik saya itulah yang, dulu saat orangtua saya kesulitan membayar uang sekolah, ikut membantu membayarkan uang sekolah saya. Dia bahkan pernah menjual ali-ali emas miliknya demi meminjami orangtua saya uang untuk saya masuk ke SMA.

Dengan fakta tersebut, kalau kemudian saya menganggap pertanyaan2 bulik saya adalah pertanyaan yang tidak sepantasnya, maka betapa kurangajarnya saya.

Keluarga adalah tembok terdekat dalam lingkaran kehidupan kita. Jangan pernah membangun jarak dan perasaan-perasaan yang tidak perlu.

Di hari lebaran, kebersamaan dengan keluarga jauh lebih mahal ketimbang sekadar rasa baper oleh pertanyaan-pertanyaan yang dianggap membosankan dan menyebalkan itu.

Percayalah, mereka bukan sekadar bertanya kapan nikah, lebih dari itu, mereka juga berharap dan bahkan ikut mendoakannya.