Dilan dan Standar Romantisme

Untuk ukuran anak SMA, memberikan hadiah berupa bunga sebenarnya adalah salah satu bentuk puncak romantisme yang mungkin bisa diciptakan dan diusahakan.

Hal tersebut bertahan sangat lama. Hingga kemudian, Dilan hadir dan mengacaukannya.

Perangai dan gerak-gerik romantisme yang Dilan bawa membuat standar romantis anak-anak SMA terkerek terlalu tinggi.

Untuk jadi cowok SMA romantis, kau harus seperti Dilan. Yang bisa nggombal dengan receh, yang bisa meluncurkan kata-kata manis, dan yang bisa memberikan buku TTS yang sudah ada isinya.

Kalau kau hanya bisa memberi bunga, maka kau tak ubahnya seperti Nandan, Beni, ataupun Kang Adi.

Dan kita tahu, baik Nandan, Beni, maupun Kang Adi, ketiganya merana dan kalah dengan caranya masing-masing.

Ya Tuhan, semoga adek-adek cewek yang masih pada SMA itu sadar diri dan tak terlalu berharap menjadi Milea. Sebab kasihan mereka kalau sampai kecewa karena lelakinya tak seromantis Dilan.

Komedian Banting Humor

Jauh sebelum Kiwil berubah dari pelawak menjadi penceramah. Kirun sudah lebih dulu punya pengalaman itu. Bahkan, kalau mau menarik benang lebih jauh, Junaedi, legenda dagelan mataram yang namanya hanya kalah kondang dari Basiyo itu juga menjadi penceramah sebelum akhirnya menutup usia.

Apakah salah seorang pelawak memberikan ceramah dan tausyiah? Tentu saja tidak. Tak ada yg salah. Lha wong dasarnya jelas, sampaikanlah walau hanya satu ayat.

Yang salah itu kalau kemudian dengan mudah menahbiskan diri atau orang lain sebagai ustad, padahal kapasitas keilmuannya meragukan dalam agama.

Legitimasi berbicara tentang agama tanpa ilmu kadang jauh lebih berbahaya dari apapun.

Dan kita sering melakukannya.

Penulis Hebat

Saya ingat betul dengan nasihat seorang penulis yang sangat saya segani. Sebut saja namanya Jumadi. Kata belio, kalau ada penulis yang dikit-dikit ngutip tokoh A, dikit-dikit ngutip tokoh B, dikit-dikit ngutip filsuf A, dikit-dikit ngutip filsuf B, maka dia bukanlah penulis hebat.

Pas saya tanya apa alasannya, jawaban dia, eh, maksud saya belio sangat masuk akal, "Penulis hebat itu dikutip, bukan mengutip. Penulis hebat itu menciptakan gagasan, bukannya mendompleng gagasan orang lain"

Begitulah. Sejak saat itu, saya mulai membulatkan tekad untuk menjadi seorang penulis hebat. Yang tulisannya dikutip oleh banyak orang. Dan ya, jalan menuju menjadi penulis hebat itu saya mulai dengan mengutip apa kata Jumadi.