Nonton Musi Triboatton 2016

Entah bagaimana caranya, dan dengan lobi macam apa, saya kok ya bisa-bisanya diundang sama Kementerian Pariwisata jadi salah satu blogger yang berkesempatan buat meliput acara Musi Triboatton 2016 di Palembang. Lha siapa yang ndak girang, bisa berkunjung ke Palembang dan nonton lomba perahu tingkat internasional di sana. Mangkanya, sebelum melanjutkan tulisan ini, izinkan saya buat mengucap syukur kepada Gusti Alloh...

"Alhamdulillah ya Alloh, terima kasih atas rejeki piknik ini"

Oke, lanjut.

Jadi, sekarang, akan saya jelaskan tentang apa itu Musi Triboatton. Jadi, Musi Triboatton merupakan paduan wisata penjelajahan atau penyusuran sungai dengan lomba dayung variatif menggunakan tiga jenis perahu (boat) yaitu; river boat, kayak, dan dragonboat alias perahu naga. Event ini sudah rutin diadakan di Palembang. Tujuannya selain sebagai event olahraga, juga untuk mempromosikan wisata Palembang.

Tak perlu dapat medali dulu biar bisa foto di sini... hahaha

Musi Triboatton 2016 terbagi menjadi beberapa etape, diantaranya adalah Tanjung Raya Kabupaten Empat Lawang, Muara Kelingi (Kabupaten Musirawas), Sekayu (Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin (Kabupaten Banyuasin), dan finish di Kota Palembang. Lomba ini diikuti oleh banyak peserta baik dari dalam maupun luar negeri, diantaranya adalah China, Macau, Philipina, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Jawa Timur, Jambi, Yonif 133 Padang, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan 1, Sumatera Selatan 2, Jawa Barat, Bangka Belitung dan DKI Jakarta.

Pembukaan Musi Triboatton 2016

Lomba yang telah digelar untuk yang kelima kalinya ini akan diikuti peserta dari berbagai negara dan daerah. Tercatat ada 16 tim dayung yang dipastikan ikut ambil bagian di lomba dayung terbuka ini, antara lain China, Macau, Philipina, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Jawa Timur, Jambi, Yonif 133 Padang, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan 1, Sumatera Selatan 2, Jawa Barat, Bangka Belitung dan DKI Jakarta.

Persiapan masing-masing kontingen sebelum ke garis start

Kontingen Malaysia sedang pemanasan, itu, ada upin ipin

Di sela-sela lomba, anak-anak numpang mandi

Nah, Untuk kunjungan saya kali ini, saya berkesempatan menyaksikan perlombaan di etape Sekayu di Musi Banyuasin untuk cabang lomba perahu naga.

Diangkut sama tim Sar ke garis start

Musi Triboatton edisi Etape Sekayu ini digelar di Sekayu Waterfront yang merupakan taman kota dan kawasan terbuka hijau yang menghadap langsung ke sungai Musi.

Sekayu Waterfront, tempat berlangsungnya etape Sekayu

Pertandingan di Sekayu Waterfront ini sangat seru dan mengasyikkan, terlebih jika yang bertanding adalah tim lokal Sekayu, karena setiap tim lokal punya pendukung militan masing-masing. Jadi, saat perlombaan dimulai, para penonton akan bersorak sorai memberikan dukungan untuk masing-masing tim yang didukung. Pokoknya sangat judiable dan taruhanable deh.

Jalannya pertandingan, maaf, kameranya jelek, jadi ndak bisa ngezoom lebih jauh

Hasil pertandingan etape Sekayu ini nantinya akan diakumulasi dengan hasil pertandingan di etape-etape berikutnya. Di akhir lomba, Jambi tampil menjadi juara dengan perolehan 3 emas, 5 perak, dan 1 perunggu.




Takjub dengan Al-Akbar, Al Quran Ukir Terbesar di Dunia

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa kawan blogger diundang oleh Kementerian Pariwisata Indonesia untuk menyaksikan dan meliput gelaran acara Musi Triboatton 2016 di Palembang.

Tentu selain meliput acara, kami para blogger juga diajak berwisata untuk menikmati aneka obyek wisata yang ada di Palembang.

Salah satu obyek wisata yang kami kunjungi adalah Al-Quran Al-Akbar yang ada di Museum Al-Quran Al-Akbar di kompleks Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah, Soak Bujang Gandus, Palembang. Al-Quran Al-Akbar adalah Al Quran ukir terbesar di dunia yang pembuatannya diprakarsai oleh H. Syofatillah Mohzaib.



Al Quran ukir ini mulai dibuat tahun 2002. Saat itu, H. Syofatillah Mohzaib yang memang merupakan ahli kaligrafi baru saja menyelesaikan pemasangan kaligrafi pintu dan ornamen masjid Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Ornamen kaligrafi yang ia buat untuk masjid Sultan Mahmud Badaruddin II itu rupanya membuat H. Syofatillah Mohzaib tertantang untuk membuat Mushaf Al-Quran dengan teknik ukiran. Maka, dimulailah proyek membuat Al-Quran ukir yang kelak akan menjadi yang terbesar di dunia itu.







Materi ukiran terbuat dari kayu khas Palembang, yaitu kayu tembesu. Proses pembuatan Al-Quran Al-Akbar ini selesai pada tahun 2008 setelah sempat mengalami kemoloran beberapa kali akibat harga kayu tembesi yang beberapa kali melonjak tinggi.





Al Quran Al-Akbar diresmikan tanggal 30 Januari 2012 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta perwakilan dari 51 negara Islam, se-Dunia bersamaan dengan acara Konferensi Parlemen Islam Dunia di Palembang.



Al Quran Al-Akbar ini dinobatkan sebagai Al-Quran ukiran kayu pertama dan terbesar di Indonesia dan dunia oleh Museum Rekor Indonesia.





Menikmati Martabak HAR yang Melegenda

"Martabak HAR, gus, kamu harus coba itu,"

Begitu kata kawan-kawan saya lewat pesan daring tatkala mereka tahu saya sedang dolan ke Palembang dalam rangka meliput Gelaran event Musi Triboatton 2016.

Jujur, saya belum pernah dengar nama Martabak HAR sebelumnya. Tapi saya yakin, martabak ini pastilah terkenal, soalnya selama perjalanan di palembang, saya sempat beberapa kali melihat gerai Martabak HAR.

"Martabak HAR itu salah satu merk martabak terkenal di Palembang, ya?" tanya saya kepada Omnduut, rekan sesama blogger yang juga ikut liputan Musi Triboatton 2016.

"Ya semacam itu lah mas," jawab Omnduut singkat.

"Dari bandara sampai ke hotel, saya sempat beberapa kali ketemu sama gerai Martabak HAR. Terkenal banget kelihatannya martabak ini. Dia buka franchise, ya?" tanya saya sekali lagi.

"Jadi gini, mas. Martabak HAR itu adalah martabak telor khas palembang, dia berbeda dengan martabak-martabak dari daerah lain, karena martabak HAR disajikan dengan kuah kari. HAR sendiri kepanjangannya adalah Haji Abdul Rozak, yang mana merupakan pelopor pertama usaha martabak ini"

"Di Palembang banyak banget ya gerainya?"

"Iya mas, soalnya anak-anaknya Haji Abdul Rozak ini semuanya meneruskan usaha martabak peninggalan ayahnya, masing-masing anak punya gerai sensiri, jadi ya nggak heran kalau gerainya banyak. Kalau gerai martabak HAR pertama sih setahu saya yang di dekat masjid agung Palembang itu." jelas Omnduut.

Belakangan, baru saya tahu kalau Haji Abdul Rozak punya delapan anak, semuanya menjual martabak HAR, beberapa cucunya pun juga meneruskan usaha martabak HAR yang legendaris ini.

Berbagai informasi yang saya dapat tentang Martabak HAR ini semakin menguatkan tekad saya untuk mencoba Martabak HAR.

Dasar nasib lagi mujur, ternyata panitia dari Kementerian Pariwisata (yang mengundang saya dan beberapa blogger untuk meliput Musi Triboatton 2016) memang sudah mengagendakan untuk mengajak para blogger icip-icip martabak HAR.



Duuuuh gusti, rejeki jejaka sholeh memang tidak pernah mengecewakan.

Tiba pada waktu yang sudah dinantikan. Saya dan rombongan dibawa ke salah satu gerai Martabak HAR. Saya ndak tahu, ini gerai milik anak atau cucu Haji Abdul Rozak yang ke berapa, maklum, saya ndak sempat menginterogasi pegawainya.



Tak perlu waktu yang lama untuk menunggu pesanan kami datang, karena peralatan masak di gerai martabak ini sudah sangat mumpuni, sehingga pesanan banyak pun tetap bisa diprosea dalam waktu yang tak terlalu lama.

Martabak pun datang, lengkap dengan cabai, dan kuah kari yang menjadi kekhasan Martabak HAR.



Saya tak tahu, bagaimana table manner martabak HAR yang baik dan benar. Konon, cara yang paling baik adalah dengan mengguyurkan kuah kari di atas martabak, lalu setelah itu, barulah martabak dimakan.

Saya sendiri justru memakai jurus lama: cocol. Ya, saya memang lebih suka memotong martabaknya lalu mencocolkannya ke dalam kuah kari, baru kemudian dimakan. Selain karena menurut saya lebih nikmat, saya juga jadi bisa membedakan, bagaimana rasa martabak dengan atau tanpa kuah kari.

Rasa martabak HAR ini sungguh gurih. Rasa telornya begitu terasa. Kegurihannya bertambah dua kali lipat saat bercampur dengan kuah kari yang juga tak kalah gurihnya.

Pokoknya susah deh menjelaskan kelezatan rasanya dal bentuk tulisan. Sampeyan harus mencobanya sendiri biar tahu bagaimana rasanya.

Nah, jika suatu saat anda dolan ke Palembang, jangan lupa mampir menikmati martabak legendaris ini. Jangan takut, gerainya banyak, kok. Tinggal tanya supir angkot, insya Alloh pasti tahu.

Kalau supir angkotnya nggak tahu, gimana mas? Lha Itu supir angkot mana dulu? Pastikan yang sampeyan tanya itu supir angkot Palembang, bukan supir angkot Polewali Mandar.