Tampilkan postingan dengan label Asal-asalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal-asalan. Tampilkan semua postingan

Politik “Siap, Laksanakan!” ala Bambang Pacul

“Di sini boleh ngomong galak, Pak, tapi Bambang Pacul ditelepon ibu, ‘Pacul, berhenti!’, ‘Siap! Laksanakan!’,” kata Bambang Pacul dalam rapat di gedung DPR rabu lalu.

Kalimat tersebut terlontar saat Bambang Pacul menjawab pertanyaan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dalam rapat dengar pendapat yang meminta agar Komisi III DPR menggolkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset serta RUU Pembatasan Transaksi Uang Kartal.

Pernyataan Bambang Pacul tersebut kemudian ditimpali oleh anggota DPR lain yang juga sepakat tentang apa yang dikatakan oleh Bambang Pacul. Mereka kemudian tertawa, entah menertawakan nasib, atau mungkin menertawakan kegetiran takdir mereka sebagai anggota DPR yang tampak nggleleng tetapi sejatinya harus selalu manut sama ketua umum.



Tentu saja apa yang dikatakan oleh Bambang Pacul itu adalah kenyataan yang menyakitkan. Memang dalam urusan pembahasan undang-undang, realitasnya begitu. “Nyang-nyangan” undang-undang memang tidak pernah murni menjadi urusan anggota DPR, melainkan urusan ketua umum parpol yang secara hierarki kepartaian adalah pimpinan mereka.

Bambang Pacul dengan cara yang konyol (dan menyebalkan) menunjukkan bahwa kompas politiknya tidak pernah goyah. Jarumnya tidak menunjuk ke utara, selatan, timur, atau barat. Jarumnya hanya menunjuk ke satu arah yang sakral: Megawati. Pejah gesang nderek Bu ketum.

Maka, nasib dua undang-undang krusial itu pun menjadi jelas. Bukan lagi soal apakah baik untuk negara atau tidak, melainkan sesederhana: “Sudah ada perintah atau belum?” Ini bukan lagi proses legislasi, ini adalah sesi menunggu notifikasi.

Bambang Pacul menunjukkan apa itu genre politik desain klasik, dengan kumis aerodinamis, dan prosesor loyalitas tingkat tinggi, produk politik inilah yang dirancang untuk kesederhanaan dan kepatuhan maksimal.

Sebuah fakta betapa DPR memang penuh dengan kepatuhan yang dibalut dengan kegarangan.

Betapa orang bertampang sangar seperti Bambang Pacul pun, yang bahkan namanya sudah sangat cocok sebagai seorang gentho pun, masih tetap harus “Siap, Yak, lapan enam” kepada entitas yang lebih tinggi.

Ah, saya jadi membayangkan, seandainya saya jadi Mahfud MD saat itu, saya mungkin hanya bisa merenges sambil bilang “Haiiiish, gatheeel… gatheeel…”

Azis Sayur Menuju Doktor

Kawan saya satu tongkrongan yang kebetulan juga sesama klan Los Kaliangkrikos, Azis Ahmad baru saja lolos seleksi wawancara untuk program doktorar luar negeri beasiswa santri. Jika tak ada aral yang melintang, ia akan segera menempuh pendidikan S3-nya di Leiden University atau Australian National University.

azis sayur

Tentu saja saya, Fairuz, Anwar, Dafi, Ubaidillah, Joko, dan kawan-kawan satu tongkrongan yang lain akan merasa kehilangan. Namun pastilah itu jenis kehilangan yang menyenangkan. Kehilangan yang layak untuk dirayakan, sebab tak ada yang lebih membuat hati bahagia ketimbang melihat kawan yang menemani kita bisa bertumbuh.

Setelah sebelumnya ditinggal Azis yang Anwar Fachruddin ke ASU alias Arizona State University, sekarang kami harus siap ditinggal oleh Azis yang lain, Azis yang selalu kami panggil dengan panggilan “Azis Sayur”, sebab ia punya usaha kedai sayuran segar di Jogja yang ia ambil langsung dari petani Kaliangkrik.

Azis adalah sosok yang baik. Ia setia kawan. Dialah yang menyuplai nyaris seluruh kebutuhan sayur keluarga saya saat kami terkena Covid-19 pada pertengahan tahun 2021 lalu. Ia punya cita-cita yang besar, ia ingin membantu mbayari sebanyak mungkin anak-anak dari daerahnya untuk mondok.

Saya dan kawan-kawan tentu berharap Azis bisa segera berangkat ke luar negeri, lulus, lalu pulang dan bercerita banyak hal pada kami di atas kursi kafe Basabasi Condongcatur tempat biasa kami nongkrong.

Saat itulah, kami sudah menyiapkan nama panggilan baru untuknya: Azis Vegetables.

Ajining Raga saka Busana

Jangan menilai seseorang dari pakaiannya, tapi nilailah dari hati, sifat, kelakuan, dan perangainya. Terlihat mudah, tapi nyatanya sangat sulit. 

Ada banyak orang yang tak punya cukup waktu untuk bisa menilai kita dari hati, sifat, kelakuan, dan perangainya. 

Maka, salah satu jalan pintasnya ya lewat pakaian. Itulah sebabnya kenapa kalau interview kerja kita harus datang dengan pakaian yang tertib, kenapa kalau kita datang bertamu ke rumah seseorang kita sebaiknya menggunakan busana yang rapi, kenapa kalau kita datang ke rumah seseorang untuk melamar harus berpakaian yang sopan. 
 
Bahkan saat sholat, meratap pada Gusti Alloh, entitas yang sudah pasti tahu bagaimana hati, sifat, dan perangai kita, kita tetap diperintahkan untuk menggunakan pakaian yang bersih, yang baik. 

Kalau kata pepatah Jawa, "Ajining Diri saka Lathi, Ajining Raga saka Busana".

Jadi kalau ada yang menganggap kita adalah orang yang urakan, tak bisa diharapkan, dan tidak teratur, hanya karena pakaian yang kita kenakan berantakan, maka mereka tidak sepenuhnya salah.

Jangan Pernah Takut Meng-Unfriend atau Mem-Block Kawan di Facebook

Kemarin, saya dicurhati oleh seorang kawan yang merasa sangat stress dan tidak jenak bermain Facebook karena harus selalu berinteraksi dengan orang-orang yang membuat dirinya tidak nyaman.

Ketika saya tanya, dia lantas menyodorkan daftar nama-nama kawan yang menurutnya adalah sosok-sosok yang keterlaluan, sosok yang kalau membalas status selalu dengan nada ketus, yang kalau bercanda selalu kelewatan, yang kata-katanya sering bikin hati sakit.

Curhatan dia membuat saya mau tak mau harus memberikan dia nasihat yang juga sering saya berikan pada orang-orang dengan masalah serupa: jangan takut dan ragu memutus rantai hubungan per-Facebook-an dengan orang-orang yang membuatmu tak nyaman.

Bagi saya, Facebook adalah tempat orang bisa mencari hiburan, mencari solusi atas banyak permasalahan, mencari kawan baru, mencari bahan tulisan, membangun relasi, berjualan, dan sebagainya.

Facebook menawarkan kita banyak tujuan, dan stress seharusnya bukan salah satunya.

“Kalau memang kamu tidak nyaman dengan orang itu, ya unfriend saja, jangan takut,” kata saya.

Bagi saya, setiap orang berhak untuk mengunfriend siapa saja di Facebook. Memang untuk itulah tombol unfriend dibikin. Tak perlu rasa ewuh-pekewuh jika memang itu penting untuk dilakukan. Facebook hanya membatasi pertemanan sebanyak lima ribu orang, jadi sebisa mungkin, lima ribu orang tersebut harus diisi oleh orang-orang yang berkualitas dalam pertemanan. Orang-orang yang memang terbukti mampu bikin kita berkembang, bikin kita senang, bikin kita tambah pinter, bukannya malah bikin stress dan banyak pikiran.

Saya tak pernah merasa ragu kalau harus meng-unfriend kawan-kawan Facebook saya, utamanya yang memang sudah lama tidak aktif, atau terlalu sering membikin atau membagikan status-status yang membuat saya tidak nyaman.

Kalaupun memang berat untuk mengunfriend, Facebook masih memberi kita opsi lain, yakni tetap berteman tapi tidak mengikuti. Ini artinya, kita berteman dengan seseorang, namun status-statusnya tidak muncul di beranda kita.

Secara prinsip, Facebook memang sudah memfasilitasi banyak hal untuk mengatur privasi pertemanan kita. Kita bisa menyembunyikan status kita, bisa membuat status kita hanya dibaca oleh orang-orang tertentu, membuat status kita tidak bisa dibaca oleh orang-orang tertentu, dan sebagainya. Semua kendali pertemanan ada di tangan kita.

Kalau memang sudah keterlaluan, Facebook juga sudah menyediakan kita fitur block. Jangan pernah ragu untuk memanfaatkan fitur ini.

Banyak orang yang bilang bahwa orang yang suka nge-block adalah orang yang tidak open minded, tidak mau menerima orang lain. Bagi saya, setiap orang memang berhak untuk mau menerima siapa saja yang memang ingin ia terima.

Suka nge-block bagi saya tidak berpengaruh pada kebijaksanaan seseorang.

Saya kerap mem-block orang di Facebook. Alasannya beragam, dari mulai menyebalkan, sampai pada hal yang sifatnya pribadi.

Saya, misalnya, pernah mem-block seseorang karena ia berkali-kali menyebut saya sebagai kader PKS dalam kolom komentar Facebook saya. Sekali dua kali, mungkin masih wajar, tapi ia melakukannya berkali-kali, dan itu membuat saya terganggu. Saya bukan kader PKS, bahwa saya pernah diundang berkali-kali di acara PKS, itu benar, tapi saya bukan kader PKS. Bagi saya, status itu penting, sebab itu berpengaruh pada penilaian orang tentang pekerjaan sebagai seorang pekerja media. Itu pula sebabnya akhirnya saya memutuskan untuk mem-block orang tersebut.

Kali lain, juga pernah mem-block orang yang menanyakan pertanyaan yang keterlaluan. Dengan enteng di bertanya, “Gus, kamu kalau ciuman sama pacarmu, biasanya di mana?” Itu bukan saja pertanyaan yang bodoh, tapi juga sangat tidak sopan.

Saya tak nyaman dengan orang yang terlalu blak-blakan tanpa filter seperti itu, maka ia saya pikir sangat layak untuk saya block.

Saya juga pernah (khusus yang ini, malah sering) mem-block orang yang sering mencandai saya dengan kondisi fisik saya. Jujur, saya orang yang cukup terbuka dan senang-senang saja dengan kekurangan (atau malah kelebihan?) fisik saya. Mulut saya yang trengginas dan progresif ini memang rentan membuat orang gatel untuk bikin guyonan fisik. Saya tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, wong ya saya sering juga mencandai kawan-kawan saya dengan cara serupa. Hanya saja, jika yang mencandai saya itu orang yang bahkan kenal saja tidak, maka itu keterlaluan namanya. Kenal enggak, ketemu juga belum pernah, tapi sok-sokan akrab dengan bercanda menggunakan kekurangan (sekali lagi, atau malah kelebihan) fisik saya.

Orang-orang seperti ini, sekali lagi, sangat layak untuk saya block.

Nah, kita semua selalu punya kebebasan untuk mengatur hubungan kita dengan orang lain di Facebook, termasuk kebebasan untuk mengatur kenyamanan kita.

Kenyamanan itu bukan hal yang harus selalu ditunggu, pada titik tertentu, kenyamanan adalah hal yang harus kita ciptakan sendiri.

Jangan pernah takut meng-unfriend dan mem-block orang lain di Facebook. Kadang, kita memang perlu untuk lebih memikirkan diri kita sendiri, ketimbang memikirkan orang lain.

Memaknai Mudik

Kau boleh saja menunaikan salat subuh di Masjidil Haram, salat duhur di mushola kecil di salah satu sudut pusat perbelanjaan, salat asar di rest area tepi jalan Pantura, salat magrib di Masjidil Aqsa, salat isya di kamar kos yang bau dan butut, atau salat tarawih di Pelataran Monas. Tapi khusus untuk Salat Ied, tak ada tempat yang lebih baik ketimbang halaman masjid di kampung kelahiranmu.

Sesukses apa pun kau di rantau, jangan lupa untuk mudik. Sebobrok apa pun kau di rantau, jangan malu untuk mudik. Cium tangan ibumu, cium tangan bapakmu, pijak tanah kelahiranmu. Boleh jadi, kepulanganmu menjadikan berkah untuk kesuksesanmu atau solusi bagi kebobrokanmu.

Temui kakek dan nenekmu jika mereka masih hidup, temui kerabat-kerabat sebaya mereka. Biarkan mereka membalurimu dengan doa sederhana yang luar biasa: “Mugo dosamu, dosaku, dilebur ing dino bodo iki, Mugo aku lan awakmu iso menangi bodo ngarep.”

Doa sederhana yang bisa jadi adalah musabab kita belum akan mampus setidaknya sampai lebaran tahun depan.

Tips Memilih Caleg Dengan Selemah-Lemahnya Iman



Pileg (dan Pilpres) hanya tinggal menunggu hari. Minggu depan, kita akan memilih wakil-wakil kita di DPRD dan DPR. Bagi sebagian orang, mencoblos Caleg adalah hal yang mudah. Namun bagi sebagian yang lain, ia menjadi hal yang begitu sulit dan dilematis.

Saya kenal dengan beberapa orang baik yang kebetulan ikut maju sebagai caleg di Pileg 2019 mendatang. Orang-orang yang saya yakin mereka punya kompetensi dan tekad yang baik untuk bisa bekerja sebagai wakil rakyat.

Kokok Dirgantoro, misalnya. Lelaki paruh baya yang dulu sering nulis buat Mojok tapi sekarang tidak pernah ini adalah salah satu caleg yang ikut bertarung di Pileg mendatang. Saya kenal baik dengan dia dan saya yakin ia sosok yang pantas mengisi kursi. Ia punya kepedulian yang tinggi terhadap hak ibu dan anak. Kepedulian itu pula yang membuatnya menawarkan program-program yang berhubungan dengan ibu dan anak seperti cuti hamil, penyediaan ruang laktasi, sampai program penitipan anak yang terjangkau.

Program yang peduli pada hak ibu dan anak itu bahkan sudah ia terapkan sendiri di perusahaan miliknya di mana memberikan cuti selama 6 bulan bagi karyawannya yang sedang hamil.

Ia maju sebagai caleg DPR RI melalui PSI dapil kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan dengan nomor urut 2.

Di dapil tempat saya bekerja, di Jogja, ada juga caleg yang saya kenal baik dan saya yakin ia mumpuni dan punya kecakapan yang layak untuk menjadi seorang wakil rakyat. Namanya Mbak Anggiasari. Ia maju sebagai caleg DPR RI melalui Partai Nasdem nomor urut 6 Dapil DIY.

Sebagai seorang penyandang disabilitas yang selama ini aktif menjadi penggiat pembela hak kaum disabilitas, Mbak Anggiasari ingin sekali memperjuangkan hak-hak disabilitas melalui jalur parlemen. Menurutnya, kebijakan pemenuhan hak disabilitas tak akan bisa maksimal jika tak ada satu pun penyandang disabilitas yang duduk di parlemen.

Dari dapil tempat tinggal saya sendiri, ada nama Mas Zainuddin. Dia kawan baik saya. Dia aktif di Laziznu, Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah milik NU. Kerjaan dia seperti pendekar filantropi: bergerilya mencari orang-orang yang perlu dibantu dan bergerilnya mencari orang-orang yang mau membantu.

Lelaki Boyolali yang kalau ngajak ketemu selalu saja dadakan ini maju sebagai Caleg DPRD Provinsi Jateng Dapil Jateng 8 (Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Kab Boyolali) melalui bendera PKB Nomor urut 2.

Selain tiga nama di atas, tentu masih ada sederet kawan-kawan saya yang lain yang maju sebagai caleg dan tidak bisa saya tulis satu per satu. Mereka punya kompetensi dan layak untuk dicoblos.

Mereka inilah yang kelak akan saya coblos (kalau ndilalah satu dapil) tanpa keraguan, tak peduli dengan citra atau sepak terjang partainya yang mungkin punya cacat dan cela di mata saya.

Sayangnya, tidak banyak orang yang bisa punya keberuntungan seperti saya karena kenal dengan orang-orang baik yang nyaleg. Banyak orang-orang yang buta tentang calon legislatif yang harus mereka pilih sehingga ketika berada di TPS, mereka mencoblos caleg dengan acak atau seenaknya.

Nah, untuk itulah, saya mencoba memberikan tips sederhana memilih caleg untuk para pemilih yang blas nggak punya kenalan caleg yang baik dan bisa diandalkan.

Ini panduan yang sangat obyektif. Jadi tentu saja sangat tidak otoritatif dan debatable alias demebat.

Monggo disimak.

PILIH CALEG YANG BERASAL DARI DAPIL

Setiap daerah punya kebutuhan dan masalahnya sendiri. Yang namanya wakil rakyat itu salah satu tugasnya adalah menjadi perantara masyarakat untuk menyampaikan masalah-masalah lokal agar bisa naik dan menjadi pertimbangan pada skup yang lebih tinggi.

Maka, akan sangat bijak jika kita memilih caleg yang berasal dari daerah kita sendiri, sebab mereka setidaknya pasti lebih paham dengan kultur, sosial, dan budaya daerahnya.

Jangan pilih caleg yang jangankan tinggal di dapil, lahir di dapil pun tidak.

PILIH CALEG YANG NGGAK BAWA-BAWA NAMA BESAR BAPAK ATAU KERABAT DEKATNYA

Dulu sempat banyak kawan yang ngeshare soal foto spanduk kampanye Romy Bareno Ilyas, anaknya Karni Ilyas yang ternyata menjadi caleg DPR RI nomor urut 3, Dapil Jabar VI (Depok Bekasi) dari Partai PAN.

Yang menjadi perhatian spanduk tersebut tentu munculnya foto sang bapak. Sebuah pertanda bahwa si anak sebenarnya tak terlalu pede dengan dirinya sendiri sehingga merasa perlu untuk mencantumkan foto bapaknya yang memang sudah kadung kesohor.

Fenomena tersebut tentu saja adalah hal yang biasa. Di Indonesia, banyak orang2 yang ingin tampil, tapi ragu dengan dirinya dirinya, sehingga ia mendompleng nama besar orang-orang terdekatnya.

Anak menggunakan kebesaran nama bapak tentu sah-sah saja. Bahkan kalaupun sebaliknya, itu juga sah-sah saja. Dulu, Rafflyn Lamusu sewaktu nyaleg lewat Partai Peduli Rakyat Nasional juga menebeng nama besar anaknya. Di spanduk kampanyenya, tertulis "Papanya Cyntya Lamusu".

Di kampung halaman saya sendiri, salah satu cucu Jenderal Sarwo Edhie juga melakukannya. Ia memasang spanduk untuk mempromosikan dirinya sebagai seorang politisi dengan mendompleng nama besar kakeknya.

Nah, caleg-caleg model begini sebisa mungkin jangan dipilih. Lha gimana, mereka tidak yakin dengan kemampuan mereka sendiri je.

PILIH CALEG YANG TERTIB MENGURUS IZIN SPANDUK

Kita tak akan tahu bagaimana kelakuan dan ketaatan seorang caleg kalau ia sudah terpilih nanti. Tapi, hal ini bisa sedikit dilihat dari bagaimana ia menaati peraturan kampanye.

Seorang caleg yang baik tentu akan mengupayakan kampanye yang baik dan tertib. Dan mengurus izin spanduk atau banner adalah hal pertama yang bisa dilakukan.

Kalau Anda kebetulan lewat di jalan raya, dan melihat spanduk caleg yang sudah ditempel dengan tanda pengurusan izin spanduk, maka tandai dia. Setidaknya, mereka bisa dijadikan sebagai pilihan akhir jika Anda sudah sangat mumet dan pusing menentukan pilihan.

PILIH CALEG DARI PARTAI KECIL

Caleg yang sedari awal memang berniat untuk cari duit tentu akan lebih memilih mencalonkan diri melalui partai yang sudah mapan, partai yang tentu punya kans untuk lolos ke parlemen. Bukan melalui partai yang kemungkinan lolos ke Senayannya kecil.

Dari situ saja sudah bisa diihat, betapa menggunakan hak pilih untuk memilih caleg-caleg dari partai kecil adalah salah satu cara paling minimal untuk memperbaiki kondisi politik yang kotor dan menyebalkan.

Dan lagi, kalau partai-partai kecil nanti bisa lolos ke senayan, maka perjuangan untuk menurunkan ambang batas parlemen tentu akan semakin menguat. Hal tersebut kemungkinan akan berpengaruh juga pada perjuangan menurunkan presidential threshold. Jika presidential threshold bisa diturunkan, misal dari 20 persen ke 10 persen, maka nantinya akan ada banyak calon presiden yang bisa bertarung. Bukan hanya dua seperti sekarang ini sehingga polaritas politik akan menjadi semakin berkurang.

Nah, kalau ternyata nanti kita pilih caleg dari partai kecil, dan ternyata ia lolos, dan teryata ia korupsi atau sering mbolos, gimana?

Itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan kita sebagai rakyat hanyalah berusaha. Dan itu yang sudah kita lakukan. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

PILIH CALEG YANG BUKAN MANTAN KORUPTOR

Banyak caleg mantan koruptor. Dan tugas kita yang selemah-lemahnya iman adalah berusaha untuk tidak mencoblos mereka.

Bawaslu beberapa waktu yang lalu sudah mengedarkan daftar nama caleg mantan koruptor dari level DPR-RI sampai DPRD Kota-Kabupaten. Silakan dicari, dan tandai, siapa saja caleg mantan koruptor yang sesuai dengan dapil Anda.

Kalau sudah tahu siapa saja, tandai, lalu pilih caleg siapa saja, pokoknya selain dia.

Tapi kan dia sudah bertobat? Iya, mereka punya hak untuk bertobat. Dan kita juga punya hak untuk menghukum mereka dengan cara tidak memilih mereka.

PILIH CALEG DENGAN NOMOR URUT SELAIN 1

Walaupun mungkin tidak semua, namun sudah bukan rahasia lagi bahwa caleg dengan nomor urut satu umumnya adalah elit partai, atau kerabat ketua umum partai, atau orang yang punya kepentingan yang besar terhadap partai.

Cobalah pilih nomor selain 1, semakin buncit nomornya, semakin bagus, misal 2, 3, 4, dan seterusnya.

Hehehe, monmaap ya Mbak Puan Maharani, Mas Ibas Yudhoyono, dan Mas Tommy Soeharto.

Salat Jumat yang Transaksional

Siang ini, saya dan kawan-kawan berangkat salat jumat di masjid tak jauh dari kantor. Hanya sepelemparan baru, ya benar-benar sepelemparan batu.

Tujuan kami tentu saja bukan agar tampang kami jadi ganteng, sebab kami tetap percaya, semulia-mulianya air wudhu, ia tetap tak akan bisa mengubah wajah kami menjadi lebih rupawan.

Buktinya, banyak kawan-kawan saya yang tak pernah salat tapi punya tampang yang cakepnya sporadis dan kolosal. Sebaliknya, saya punya banyak kawan yang rajin salat tapi punya tampang yang buluknya ngaudubillah setan.

Masjid tempat kami salat selalu penuh oleh anak-anak Kecil dari kompleks perumahan sekitar.

Maklum, setiap salat jumat, selalu ada suguhan aneka snack jaburan yang boleh diambil oleh para jamaah salat jumat. Ada jus jambu, ada susu kedelai, ada arem-arem, ada tahu bakso, ada bakpao, ada gorengan, dan sesekali waktu ada juga siomay kecil. Dan bisa ditebak, snack-snack ini biasanya lebih banyak dilarisi oleh anak-anak.

Yah, kadang, saya dan kawan-kawan juga ikut berebut. Lumayan, gratisan ini.

Begitu salat selesai, atau lebih presisinya, begitu salam selesai, maka anak-anak akan langsung gedebukan berebutan mengambil snack yang tersedia.

Ada yang disiplin ambil satu, ada yang ambil dua, dan tak jarang ada pula yang nggragas dengan mengambil lebih dari dua.

Snack-snack tersebut boleh dibilang cukup ampuh untuk menarik anak-anak agar mau berangkat salat jumat. Anak kecil memang acapkali butuh motivasi yang lebih dari sekadar iman. Butuh imbalan sesuatu agar ia mau beribadah.

Jangankan anak kecil, orang dewasa pun sejatinya juga sama. Bedanya hanya soal imbalannya. Anak kecil hanya butuh arem-arem dan susu kedelai, sementara orang dewasa butuh janji masuk surga dan dihindarkan dari neraka.

Sama-sama transaksional.

Bahkan, pada titik tertentu, orang dewasa seperti kita jauh lebih tidak tahu diri. Dengan salat, anak Kecil cuma berharap sesuatu yang sederhana, sedangkan kita mengharapkan sesuatu yang nilainya jauh-jauh lebih dari sekadar imbalan untuk gerakan tubuh yang bahkan durasinya tak sampai lima menit itu.

Sampai di parkiran samping, saya dan beberapa kawan kantor tak langsung masuk masjid.

“Bentar, dikit lagi…” kata Kuntet sembari menunjukkan rokoknya yang tampak masih setengah batang.

“Iyo, nongkrong dilit, toh dari sini khotbahnya juga kedengaran jelas,” tukas Ega Balboa, si ilustrator Mojok.

Saya yang imannya masih sangat lemah mau tak mau ikut apa kata dua sobat saya itu.

Tak berselang lama, Ega beranjak dan berjalan cepat masuk masjid.

Saya kemudian berdiri dan menyusulnya. Namun, belum juga saya sempat menyusulnya, Ega sudah muncul kembali.

Dari tangannya, ia membawa sebungkus siomay dan susu kedelai.

“Heh, goblok. Itu snack buat diambil setelah salat, bukan buat diambil sekarang!” Kata saya memperingatkan Ega.

Si goblok yang sudah saya kenal sejak SMA ini kemudian menjawab diplomatis.

“Kalau ngambilnya setelah salat, pasti sudah kehabisan soalnya harus rebutan sama anak-anak. Kalau diambil sekarang kan lebih mudah,” terangnya sambil prengas-prenges dan mulai membuka bungkus siomay dan menyantapnya.

“Woooo, kenthiiiiir!!!”

“Salat itu yang penting khusyuk, Gus. Lha daripada nanti aku salat sambil kepikiran siomay sama susu kedelai, mending tak ambil sekarang, biar nanti pas salat bisa khusyuk dan tenang!”

Ah, orang dewasa. Sudahlah transaksional, nggragas pula.

Pertanyaan Lebaran

Entah kenapa, di hari lebaran ini, di media sosial, banyak yang baper dengan aneka pertanyaan-pertanyaan menyebalkan dari sanak, saudara, dan kerabat. Pertanyaan yang, dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi padahal sebenarnya biasa saja dan sama sekali tidak perlu dirisaukan.

Kapan nikah, kapan lulus, kok dari dulu nggak naik pangkat, sekarang kok tambah subur saja badannya, kok masih sendirian aja, dsb, dsb.

Keluarga, utamanya yang sudah lama tak berjumpa fisik, sering kali memang kehabisan bahan untuk berbasa-basi, sehingga pertanyaan-pertanyaan model begitu kerap menjadi ban serep yang paling ampuh.

Sayang, beberapa orang mungkin memang terlalu perasa atau memang tidak terlalu bisa menangkap hal tersebut.

Di facebook, tak sedikit yang menuliskan rasa sebalnya karena oleh tante-tantenya ditanya “Kapan nikah?”

Dengan kejam (untuk tidak menyebutnya bengis), mereka menganggap tante mereka tak punya etika, menyebalkan, dan aneka sematan buruk lainnya.

Padahal jika dilihat dari sudut yang berbeda, pertanyaan itu, di luar bahan basa-basi, bisa juga merupakan salah satu bentuk verbal kepedulian mereka pada keponakan-keponakannya.

Dengan bertanya kapan nikah, itu menjadi bukti bahwa mereka ikut bersuka-cita kalau kita menikah.
Tapi kan menikah itu urusan kita sendiri, bukan urusan mereka?

Urusan kita sendiri gundulmu. Tantemu, bulikmu, paklikmu, budemu, embahmu, kerabat dekatmu, semua berhak punya urusan pada pernikahanmu. Mereka orang pertama yang bakal sambatan, yang bakal cawe-cawe, yang bakal menyumbang tenaga dan (mungkin) harta paling besar demi lancarnya acara resepsimu.

Orang-orang terdekatmu, keluargamu, kerabatmu, selalu punya andil yang besar pada hidupmu.

Beda soal kalau yang tanya itu bukan keluargamu. Kalau yang ini, kamu jawab dengan judes pun silakan. Bahkan kalau perlu, digas sekalian, misal pas mereka nanya “Kapan nikah?” jawab saja, “Entar ah, masih pengin freesex!” Hahaha.

Dulu saya punya bulik yang sering sekali bertanya soal sekolah saya. Nilai saya bagus apa tidak, di sekolah dapat ranking berapa? Dsb, dsb.

Pada titik tertentu, pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlihat sangat mengganggu, utamanya jika saya ternyata adalah murid yang goblok dengan lebih banyak nilai di raport yang berwarna merah ketimbang biru.

Namun belakangan baru saya ketahui, bulik saya itulah yang, dulu saat orangtua saya kesulitan membayar uang sekolah, ikut membantu membayarkan uang sekolah saya. Dia bahkan pernah menjual ali-ali emas miliknya demi meminjami orangtua saya uang untuk saya masuk ke SMA.

Dengan fakta tersebut, kalau kemudian saya menganggap pertanyaan2 bulik saya adalah pertanyaan yang tidak sepantasnya, maka betapa kurangajarnya saya.

Keluarga adalah tembok terdekat dalam lingkaran kehidupan kita. Jangan pernah membangun jarak dan perasaan-perasaan yang tidak perlu.

Di hari lebaran, kebersamaan dengan keluarga jauh lebih mahal ketimbang sekadar rasa baper oleh pertanyaan-pertanyaan yang dianggap membosankan dan menyebalkan itu.

Percayalah, mereka bukan sekadar bertanya kapan nikah, lebih dari itu, mereka juga berharap dan bahkan ikut mendoakannya.

Kenapa Lebih Banyak Lelaki yang Memperkosa Perempuan Ketimbang Sebaliknya?

Selama ini, kita sangat sangat sering mendengar berita pemerkosaan terhadap perempuan. Terlalu sering, malah. Namun, kita jarang mendengar berita soal perempuan memperkosa lelaki. Apakah memang tidak ada kasus perempuan memperkosa lelaki? Tentu saja ada. Namun jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang kasus lelaki memperkosa perempuan.

Apakah ini salah bentuk ketimpangan kesetaraan? Ha ndiasmu.

Oke, jadi begini. Secara ilmiah, hal ini sebenarnya bisa dijelaskan.

Secara medis, manusia mempunyai syaraf untuk mengontrol seks di otaknya, nama ilmiahya adalah Hipotalamus. Ukurannya sebesar buah Cherry dan beratnya kurang lebih 4,5gr. Selain mengendalikan nafsu birahi kita, Hipotalamus ini juga mengendalikan perasaan, detak jantung dan tekanan darah. Nah, usut punya usut, ternyata hipotalamus lelaki lebih besar dari wanita. Karena itulah nafsu seks lelaki lebih besar dari wanita.
Dari sini sudah bisa mulai ditarik kenapa dalam urusan seks lelaki cenderung lebih agresif.

Nah, ada hasil penelitian yang menarik oleh Roy Baumeister, psikolog sosial dari Florida State University, Hasil peneliatannya itu semakin memperbesar argumen tentang fenomena tindak pemerkosaan yang lebih banyak dilakukan oleh lelaki pada perempuan ketimbang sebaliknya. Roy Baumeister menemukan bahwa hasrat seksual lelaki bersifat spontan dan fantasi seks mereka lebih bervariasi dibanding wanita.

Lelaki punya kecenderungan memikirkan seks setidaknya sekali dalam sehari. Sementara itu, wanita yang berpikir tentang seks setiap hari, jumlahnya hanya seperempat dibanding lelaki.

Kalau secara nalar seksual, bisa juga ditelusuri. Dalam keadaan terangsang, pada lelaki, penisnya akan ereksi. Sedangkan pada perempuan, liang vaginanya akan basah oleh cairan vagina. Sama seperti ereksinya penis lelaki, basahnya vagina ini dapat terjadi akibat stimulasi fisik, seperti selama foreplay seksual, atau dari sekadar memikirkan aktivitas seksual.

Nah, untuk mencapai penetrasi, syarat yang paling utama adalah penis lelaki haruslah ereksi. Sebab, jika penis lelaki tidak ereksi, maka penetrasi akan susah dilakukan.

Sedangkan wanita, mau vaginanya basah atau tidak, penetrasi tetap bisa dilakukan. Bedanya, saat vagina basah, itu tidak akan menyakitkan bagi perempuan, karena sejatinya, itu adalah cairan pelumas yang memungkinkan pergerakan yang lebih luwes saat upaya penetrasi menciptakan gesekan.

Jadi, dalam urusan penetrasi, yang lebih punya peran penting adalah penis. Nah, yang bisa punya kendali pada hal ini tentu saja adalah lelaki. Mau sekeras apapun perempuan mencoba memerkosa lelaki, kalau penisnya tidak ereksi, maka penetrasi tidak akan bisa dilakukan.

Itulah kenapa, dalam banyak sisi, pemerkosaan menjadi lebih strategis dilakukan oleh lelaki kepada perempuan ketimbang sebaliknya. Lelaki lebih dominan.

Nah, dengan fakta ini, menjadi hal yang penting bagi lelaki, bahwa urusan seksual, ia punya ruang kendali yang jauh lebih besar ketimbang perempuan. Pendidikan seksual menjadi mutlak lebih dibutuhkan oleh lelaki ketimbang perempuan.

Itulah sebabnya, sejauh ini, cara yang paling baik untuk mengurangi tindak pelecehan seksual adalah mengajarkan lelaki untuk bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya.

Kenapa? Ya karena itu tadi. Jauh lebih mudah bagi lelaki untuk ereksi ketimbang perempuan untuk basah.

Corat-coret Seragam saat Lulus?



Saya tak pernah bisa menggoblok-goblokan atau memaki anak-anak SMA yang mencorat-coret seragamnya setelah pengumuman kelulusan. Kenapa? Karena saya sendiri ngrumangsani, dulu juga melakukannya.

Saya cerita sedikit. Saya lulus SMA tahun 2009. Dan itu adalah salah satu kelegaan hidup yang sungguh tiada tara bagi saya. Betapa tidak, waktu itu, batas nilai minimal kelulusan ujian nasional untuk mata pelajaran matematika adalah 4,0. Dan saya begitu takut dengan mata pelajaran yang sama sekali tidak mengandung cinta dan kasih sayang itu.

Ketakutan saya tentu beralasan. Saat ujian matematika, saya hanya bisa menjawab tak lebih dari 10 soal dari 30 soal yg ada. Itupun saya tak yakin benar semua. Sisanya, saya pasrah. Taruhlah 10 soal yang bisa saya kerjakan itu benar semua, maka nilai yang bisa saya kunci adalah 3,3. Saya masih belum lulus. Agar saya bisa lulus dengan nilai minimal 4,0, saya harus punya minimal 12 jawaban benar.

Begitu ujian selesai, hampir seluruh semangat saya mereda. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Tentu saja saya terus memikirkan nilai matematika saya. Waktu tiga minggu (kalau ndak salah) menunggu hasil pengumuman ujian nasional saat itu terasa begituuuuu lama. Sungguh menyiksa.

Hingga akhirnya, pengumuman pun hadir. Saya dinyatakan lulus. Dan tahukah anda berapa nilai matematika saya? 4,7 sodara, 4,7. Betapa beruntungnya diri ini. Saya butuh 12 jawaban benar, dan Gusti Alloh memberi saya 14.

Maka, betapa bahagianya saya saat itu. Hampir jebol pertahanan air mata saya. Saya lihat, banyak kawan-kawan saya yang juga mengalami kebahagiaan dan kelegaan yang sama.

Dan apa yang saya lakukan setelah itu? Ya, corat coret dengan pilox. Persis seperti yang dilakukan kawan-kawan saya yang lain.

Apakah saya tidak berfikir bahwa menyumbangkan seragam ke orang yg lebih membutuhkan adalah jauh lebih baik daripada corat-coret seragam? Tentu hal itu juga terlintas di pikiran saya. Tapi ingat, kebahagiaan yang berlebih seringkali memang mengacaukan logika dan akal sehat yang luhur. Dan itu yang terjadi pada saya saat itu.

Padahal sehari sebelumnya, saya dan kawan sebangku saya, Sentiko, berniat untuk tidak mencorat-coret seragam. Sentiko berhasil melaksanakan niatnya, sedangkan saya tidak. Kebahagiaan kelulusan itulah yang membuat saya jadi gelap mata. Bonus dua soal dari Alloh itu yang membuat saya jadi lupa segalanya.

So, ketika tadi sore ada yang meminta pendapat saya tentang anak-anak SMA yang corat-coret seragam setelah kelulusan, pendapat saya jelas: SAYA INGIN MENYELAMATI MEREKA, DAN TIDAK MAU MENYALAHKAN MEREKA ATAS APA YANG SUDAH MEREKA PERBUAT. Lagipula, seragam-seragam mereka sendiri, pilox mereka juga beli sendiri. Lalu dimana masalahnya?. Beda soal kalau kemudian mereka berkonvoi tidak tertib dan bikin macet lalu lintas. Itu sudah lain perkara. Ingat, ini soal corat-coretnya, bukan soal konvoinya.

(Dulu saya corat-coret seragam, tapi tidak ikut konvoi. Lha meh konvoi gimana? Wong jaman SMA saya ke sekolahnya naik sepeda ontel, stangnya ndak bisa dibleyerke)

Lagipula, begini deh, coba pikirkan sedikit. Setelah lulus, mereka anak-anak SMA yang kalian anggap sebagai alay goblok itu bakal bergelut dengan sesuatu yang jauh lebih berat: seleksi masuk universitas, mencari kerja, atau yang paling nelangsa, menganggur dalam waktu yang sangat lama.

Jadi, tak bisakah kita memaklumi mereka untuk merayakan sedikit kebahagiaan sebelum tiba waktunya memasuki masa-masa sulit dalam kehidupan mereka? Kalau tidak bisa, Kok ya sungguh egois dan jahat sekali.

Saya paham, Anda mungkin tidak akan setuju dengan pemikiran saya yg memaklumi tindak corat-coret seragam itu. Tapi sungguh, jika dulu anda pernah berada dalam posisi saya, anda akan tahu mengapa saya bersikap begini.

Akhir kata, selamat atas kelulusan kalian, adik-adikku.

Oh ya, sampai lupa. Saya menerima dengan lapang dada, segala caci maki dan bully atas tulisan panjang ini... lha memangnya apa lagi yang bisa saya lakukan? Hahaha

(Ditulis di rumah tercinta, satu jam setelah terjebak macet di Muntilan karena konvoi kelulusan salah satu SMA swasta)

Rumus Film Thailand

Sekarang ini, Thailand memang yahud kalau bikin film atau iklan. Mereka punya satu rumus yang sangat ciamik dan tokcer: Keharuan.

Hambok sekarang lihat saja, banyak iklan-iklan thailand mulai dari iklan asuransi, shampo, bahkan iklan CCTV yang sukses jadi viral karena mampu menguras air mata setiap pemirsa.

Film juga begitu, dengan formula yang sama, Thailand sukses memproduksi banyak film romance (yang walau banyak dipenuhi humor) yang mampu membuat mata merah karena genangan air mata.

Saya sampai tak menyangka, kalau ternyata, dunia perfilm-an Thailand bisa sekeren seperti sekarang ini. Padahal, dulu orang-orang taunya film Thailand itu ya cuma sebatas film Chang Phuan Kaew, Kraithong, dan Nang Nak.

Dan, saya juga tak menyangka, kalau dulu, gara-gara menonton film Thailand berjudul Superhap, saya terpaksa harus kena malu karena kegep sama rekan sesama operator saat saya sedang nangis mimbik-mimbik di pojokan meja operator.

Wahai para penghujat alay penginjak amarylis

Yang menghujat para alay penginjak amarylis dengan status yg begitu heroik itu belum tentu bisa bersikap lebih bijak ketimbang si alay. Bisa jadi, seandainya ia tinggal dekat dengan lokasi taman bunga itu, mungkin ia malah bakal menginjak-injak bunga amarylis itu dengan lebih brutal.

Saya sendiri pun, jika ada taman bunga seindah itu di dekat kampung saya, mungkin saya juga bakal ikut latah foto-foto bareng si bunga (dan mungkin bakal ikut menginjak-injak juga)

Saya bukannya ingin membela si alay lho ya, saya cuma pengin kita bercermin, agar kita tidak jadi pengguna sosial media yang sok moralis.

Dan tolong camkan: ketika sampeyan berfoto mesra dengan pacar sampeyan, dan sampeyan menguploadnya di sosial media, ingatlah, ada ribuan jomblo yang terinjak-injak hatinya.

Setelah setengah tahun rehat tanpa postingan

Sudah masuk bulan April 2015. Duh Gusti paringono ekstasi, Saya baru sadar, kalau ternyata sudah hampir enam bulan alias setengah tahun blog ini tidak diurus. Tidak ada postingan baru di blog ini sejak bulan November tahun lalu. Sebagai blogger lurus, saya merasa sangat-sangat berdosa.

Tapi mau bagaimana lagi, saya memang sudah kadung cinta dengan blog saya yang satunya (agusmulyadi.web.id), jadi saya lebih konsen untuk posting di sana.

Sebenarnya sih ada banyak sekali agenda yang seharusnya bisa saya tulis sebagai pengisi postingan blog ini, namun karena kesibukan, reportase kegiatan tersebut akhirnya berlalu begitu saja tanpa pernah saya tuliskan.

Beberapa diantaranya adalah:

Jadi pembicara di acara Diskusi buku bertajuk "Menulis di Era Digital" bersama Ainun Nufus tanggal 6 Januari di Togamas Affandi



Jadi Pembicara di acara CS Summit 2015 di Hotel East Parc Jogja tanggal 7 Maret 2015.



Jadi bintang Tamu di acara The Comment Net dan juga acara Ensiklotivi TV One bersama Agan Harahap



Kopdar dan Makan Siang Dengan Menteri Kominfo Pak Rudiantara bersama para pegiat dunia IT Jogja tanggal 21 Maret 2015



Pembukaan dan peresmian Angkringan Mojok



Dan masih banyak lagi agenda-agenda lain yang seharusnya bisa saya jadikan sebagai postingan.

Tapi tak apa, setidaknya, setelah postingan ini, saya akan mencoba untuk lebih aktif lagi posting di blog yang dulu sempat emnajdi blog kebanggan saya ini.

Yah, doakan saja.